"Mossad membuat serangkaian janji yang tidak ditepati," kata sumber tersebut.
Meski gelombang awal serangan berhasil menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei serta menghancurkan sejumlah infrastruktur militer dan pemerintahan, perubahan signifikan dalam struktur kekuasaan Iran belum terjadi. Pemimpin tertinggi yang baru, putra dari Khamenei, bahkan dinilai lebih keras dan memiliki kedekatan lebih kuat dengan Garda Revolusi Iran.
Baca Juga:
Pengamat Militer: Kolaborasi Mossad-CIA, Operasi Senyap Jatuhkan Para Pemimpin
Dalam pernyataan publik pertamanya sejak perang dimulai, Barnea mengakui bahwa misi Israel di Iran masih jauh dari selesai.
"Kami tentu saja merencanakan agar kampanye kami berlanjut dan terwujud bahkan pada periode setelah serangan di Teheran," ujarnya dalam peringatan Hari Peringatan Holocaust Israel. "Komitmen kami hanya akan terpenuhi ketika rezim ekstremis tersebut digantikan."
Sosok Gofman dan Kontroversinya
Baca Juga:
Di Tengah Gelombang Protes, Iran Gantung Pria yang Dituduh Agen Mossad
Gofman, 49 tahun, lahir di Belarusia dan pindah ke Israel pada usia 14 tahun. Ia menghabiskan lebih dari tiga dekade di Korps Lapis Baja IDF dengan berbagai posisi tempur dan komando.
Penunjukannya sebagai kepala Mossad diumumkan Netanyahu pada Desember lalu, mengungguli kandidat lain dari internal lembaga tersebut. Meski bukan hal yang sepenuhnya baru, penunjukan kepala intelijen dari kalangan militer, bukan dari dalam Mossad, terbilang tidak lazim.
Saat mengumumkan penunjukan itu, Netanyahu memuji Gofman sebagai sosok yang memiliki kemampuan luar biasa. Ia menyebutnya sebagai "perwira yang luar biasa, berani, dan kreatif yang menunjukkan pemikiran di luar kebiasaan dan kecerdasan yang mengesankan sepanjang perang."