Namun, sejumlah analis mempertanyakan kelayakan Gofman. Analis pertahanan senior, Amir Oren, menilai Gofman minim pengalaman dalam bidang-bidang kunci intelijen seperti pengumpulan informasi, operasi khusus, hingga kerja sama antar badan intelijen.
Ia menyebut kemampuan tersebut sebagai keahlian "di mana seseorang harus benar-benar menguasai bidang tersebut selama bertahun-tahun dan mungkin berpuluh-puluh tahun sebelum berani memerintah orang lain."
Baca Juga:
Pengamat Militer: Kolaborasi Mossad-CIA, Operasi Senyap Jatuhkan Para Pemimpin
Oren bahkan menilai penunjukan ini lebih didorong oleh faktor loyalitas terhadap Netanyahu ketimbang kebutuhan keamanan negara.
"Terdapat penilaian bulat dari para profesional militer dan keamanan yang masih aktif maupun yang sudah veteran bahwa penunjukan-penunjukan ini tidak dimaksudkan untuk menguntungkan keamanan Israel, melainkan untuk membantu Netanyahu secara pribadi dan politik," ujarnya.
Proses pengangkatan Gofman sendiri sempat tertunda akibat kontroversi kasus pada 2022, saat ia diduga melibatkan seorang remaja untuk menyebarkan informasi rahasia dalam operasi pengaruh daring. Remaja tersebut sempat ditahan lama oleh aparat keamanan sebelum dakwaannya dibatalkan setelah diketahui bahwa aktivitasnya mendapat otorisasi.
Baca Juga:
Di Tengah Gelombang Protes, Iran Gantung Pria yang Dituduh Agen Mossad
Media Israel melaporkan Gofman membantah mengetahui usia remaja tersebut dan menyatakan hanya memerintahkan pemberian informasi non-rahasia.
Remaja tersebut, yang kini berusia 21 tahun, menjadi salah satu pengkritik paling vokal terhadap Gofman dan bahkan mengajukan banding ke Mahkamah Agung Israel atas penunjukan tersebut.
Restrukturisasi Keamanan Pascaserangan 7 Oktober