Pernyataan tersebut menunjukkan adanya ketidakpastian mengenai sejauh mana tekanan militer, politik, maupun operasi intelijen dapat menghasilkan perubahan kepemimpinan di Teheran.
Roman Gofman sendiri mulai menjabat sebagai kepala Mossad pada Juni 2026 dengan menggantikan David Barnea.
Baca Juga:
Mossad Terlalu Optimis, Realita Perang Iran Tak Sesuai Harapan
Sebelum memimpin Mossad, Gofman menjabat sebagai sekretaris militer Netanyahu setelah sebelumnya menjalani karier panjang sebagai perwira senior militer Israel.
Perombakan di tubuh Mossad berlangsung ketika ketegangan antara Israel dan Iran berada dalam situasi yang semakin kompleks.
Amerika Serikat dan Israel disebut melancarkan serangan terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026), yang berdasarkan laporan tersebut mengakibatkan lebih dari 3.000 orang tewas.
Baca Juga:
Pengamat Militer: Kolaborasi Mossad-CIA, Operasi Senyap Jatuhkan Para Pemimpin
Iran kemudian membalas melalui serangkaian serangan rudal dan drone terhadap pangkalan Amerika Serikat di kawasan serta sejumlah target di Israel.
Konfrontasi tersebut semakin mempertegas Iran sebagai salah satu prioritas keamanan dan intelijen utama bagi Israel sekaligus Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Perkembangan berikutnya terjadi pada Kamis (18/6/2026), ketika Washington dan Teheran dilaporkan menandatangani kerangka kesepakatan serta memulai perundingan menuju kesepakatan final.