Situasi ini kemudian memicu lonjakan harga bahan bakar di berbagai negara serta mendorong sejumlah negara, khususnya di kawasan Asia, untuk memberlakukan pembatasan konsumsi dan penjatahan energi.
Utusan Cina untuk PBB, Fu Cong, menilai pengesahan resolusi dalam kondisi saat ini justru akan memberikan sinyal yang keliru di tengah meningkatnya ketegangan global.
Baca Juga:
Konflik Global Picu Krisis Energi, Rusia Prioritaskan Pasar Asia
“Mengadopsi rancangan tersebut ketika AS mengancam kelangsungan hidup suatu peradaban akan mengirimkan pesan yang salah,” kata Fu Cong.
Sementara itu, Duta Besar Rusia untuk PBB, Vasily Nebenzya, menyatakan bahwa Rusia bersama Cina telah mengajukan rancangan resolusi alternatif terkait situasi di Timur Tengah, termasuk isu keamanan maritim.
Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, menyambut baik langkah veto tersebut dan menilai tindakan itu mencegah penyalahgunaan forum internasional.
Baca Juga:
Rusia Klaim Kemenangan Baru, Kuasai Penuh Luhansk Ukraina Timur
“Tindakan mereka hari ini mencegah Dewan Keamanan disalahgunakan untuk melegitimasi agresi,” ujar Iravani.
Rancangan resolusi tersebut sebelumnya telah melalui proses negosiasi intensif selama beberapa hari di balik layar antarnegara anggota.
Dalam versi awal, dokumen tersebut secara eksplisit merujuk pada Bab 7 Piagam PBB yang memberikan kewenangan kepada DK PBB untuk menjatuhkan sanksi hingga penggunaan kekuatan militer.