“Diminta mendiskusikan persoalan itu secara pribadi,” demikian laporan media mengenai arahan yang disebut datang dari Khamenei kepada anggota terpilih Majelis Ahli.
Nama Mojtaba disebut mendapat dukungan kuat dari kalangan ulama berpengaruh, meski keputusan akhir tetap berada di tangan Majelis Ahli sebagai lembaga yang berwenang memilih dan mengawasi Pemimpin Tertinggi Iran.
Baca Juga:
Laut dan Darat Jadi “Kuburan”, Rudal Iran Gempur USS Abraham Lincoln
Majelis Ahli sendiri terdiri dari 88 ulama yang memiliki mandat konstitusional untuk menentukan otoritas keagamaan tertinggi negara.
Di ranah politik dan keagamaan Iran, Mojtaba Khamenei bukan sosok asing karena ia dikenal memiliki latar belakang teologi Islam yang kuat dan jaringan pengaruh yang luas.
Sorotan internasional terhadap dirinya menguat saat krisis pemilihan presiden Iran pada 2009 yang dimenangi petahana garis keras Mahmoud Ahmadinejad atas penantang reformis Mir Hossein Mousavi.
Baca Juga:
Ali Khamenei Tewas Digempur Serangan Udara AS-Israel, Iran Berkabung 40 Hari
Pemilu tersebut memicu gelombang protes massal setelah oposisi menuding terjadi kecurangan secara meluas di berbagai wilayah Iran.
Sejumlah analis meyakini Mojtaba memainkan peran penting di balik layar dalam mengelola respons negara terhadap kerusuhan yang terjadi kala itu.
Meski tidak memegang jabatan pemerintahan formal, pengaruh Mojtaba dilaporkan terus meningkat selama bertahun-tahun melalui jejaring internal kekuasaan.