Sementara Israel tetap mendorong strategi agresif untuk melemahkan bahkan menggulingkan rezim Iran, Amerika Serikat mulai menunjukkan sikap yang lebih berhati-hati.
Menurut laporan yang dikutip pada Rabu (25/3/2026), Netanyahu meyakini kondisi internal Iran sedang rapuh dan membuka peluang untuk mengguncang kekuasaan.
Baca Juga:
Pilih Chat daripada Telepon? Kebiasaan Ini Ternyata Ungkap Cara Anda Berpikir
Ia bahkan sebelumnya menyampaikan pesan langsung kepada rakyat Iran agar memanfaatkan momentum tersebut.
“Pesawat kami menyerang para pelaku teror di lapangan, di persimpangan, di alun-alun kota. Jadi keluarlah dan rayakan. Kami mengawasi dari atas,” ujar Netanyahu.
Meski demikian, respons masyarakat Iran terhadap seruan aksi tersebut relatif minim.
Baca Juga:
Podcast Konsumen Dignity: Jangan Diam Jika Dirugikan, Ini Jalur Resmi Pengaduan Konsumen
Momentum festival Chaharshanbe Suri yang sempat diprediksi menjadi titik awal demonstrasi besar tidak menunjukkan pergerakan signifikan dari warga.
Faktor ketakutan terhadap represifitas aparat disebut menjadi salah satu alasan utama minimnya partisipasi publik.
Laporan kelompok hak asasi manusia sebelumnya menyebut ribuan demonstran telah tewas dalam aksi protes sebelum konflik meningkat, bahkan jumlah korban diperkirakan bisa mencapai puluhan ribu.