WAHANANEWS.CO, Jakarta - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor pangan untuk memanfaatkan teknologi sterilisasi dalam proses produksi.
Penggunaan teknologi tersebut dinilai mampu memperpanjang masa simpan produk sekaligus memperluas peluang pemasaran.
Baca Juga:
Lindungi Konsumen, BPOM Panggil Produsen Kopi Berisiko Gangguan Ginjal
Kepala BPOM Taruna Ikrar menyampaikan bahwa sektor pangan memiliki potensi besar dalam pengembangan UMKM di Indonesia.
Berdasarkan perhitungan BPOM, sekitar 75 persen potensi pasar berasal dari produk pangan yang berada dalam pengawasan lembaga tersebut.
“Banyak produk makanan UMKM hanya mampu bertahan satu sampai dua hari. Kondisi ini membuat potensi pasar menjadi tidak maksimal,” ujarnya saat sesi doorstop di acara workshop dan peluncuran Buku Saku "UMKM Paham Uji: Wujudkan Produk Aman dan Berkualitas untuk Negeri" di Kantor BPOM RI, Jakarta Pusat, Selasa, 10 Maret 2026.
Baca Juga:
Waspada, 8 Obat Ini Paling Sering Dipalsukan
Ia menjelaskan bahwa masa simpan produk yang terlalu singkat membuat produk pangan sulit menjangkau pasar yang lebih luas.
Akibatnya, pelaku UMKM sering menghadapi kendala ketika ingin memperbesar skala usahanya.
Untuk mengatasi hal tersebut, BPOM mendorong penerapan teknologi steril komersial dalam proses produksi pangan.
Teknologi ini memungkinkan produk memiliki masa simpan yang lebih lama tanpa mengurangi standar keamanan pangan.
“Dengan teknologi steril komersial produk bisa bertahan hingga enam bulan bahkan sampai satu setengah tahun. Produk tetap aman dan sesuai standar yang ditetapkan,” katanya.
Dengan masa simpan yang lebih panjang, peluang pemasaran produk UMKM pun menjadi lebih luas.
Produk tidak hanya dipasarkan di sekitar lokasi produksi, tetapi juga dapat menjangkau daerah lain.
Taruna Ikrar menilai peningkatan kualitas produk akan berdampak langsung pada peningkatan pendapatan pelaku usaha.
Ia juga menekankan bahwa UMKM yang berkembang dan naik kelas dapat memberikan kontribusi besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
“Kami ingin membantu UMKM agar produknya memenuhi standar keamanan sekaligus memiliki daya saing lebih tinggi. Jika UMKM berkembang maka dampaknya besar bagi ekonomi nasional,” ucapnya.
Sementara itu, Wakil Bidang Pembinaan dan Pemberdayaan IKM GAPMMI Betsy Monoarfa menyampaikan apresiasinya terhadap peluncuran buku saku yang disusun BPOM.
Menurutnya, buku panduan tersebut dapat membantu para pembina UKM dalam memberikan edukasi mengenai keamanan pangan kepada pelaku usaha.
“Buku saku ini sangat bermanfaat bagi kami sebagai pembina UKM. Panduan ini bisa menjadi acuan edukasi bagi UKM binaan kami,” ujarnya.
Betsy menegaskan bahwa aspek keamanan pangan merupakan hal yang tidak dapat ditawar bagi setiap pelaku usaha.
Kesadaran mengenai pentingnya standar keamanan pangan dinilai sangat penting agar produk UKM tetap aman dikonsumsi masyarakat.
“Keamanan pangan adalah harga mati bagi seluruh pelaku usaha. Standar tersebut harus dipatuhi meski produk berasal dari UKM,” ucapnya.
Ia berharap buku saku tersebut dapat membantu pelaku usaha meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan.
Dengan demikian, pelaku UKM diharapkan dapat berkembang lebih baik dan memperluas jangkauan pasar.
“Harapan kami UKM bisa berkembang lebih baik dan produknya semakin berkualitas. Langkah BPOM ini sangat membantu proses pembinaan,” katanya.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]