"Kami telah mencatat sekitar 131 kematian secara total dan kami memiliki sekitar 513 kasus suspek," kata Kamba dalam keterangannya.
Kamba menambahkan bahwa data angka kematian yang dilaporkan mencakup seluruh jenazah yang diidentifikasi langsung di lingkungan komunitas masyarakat. Pihaknya menegaskan bahwa belum bisa dipastikan apakah seluruh angka kematian tersebut murni berkaitan dengan paparan virus Ebola atau ada faktor lain.
Baca Juga:
Waspada! Golongan Darah Tertentu Dikaitkan dengan Risiko Stroke Lebih Tinggi
"Kematian yang kami laporkan adalah semua kematian yang kami identifikasi di dalam komunitas, tanpa harus mengatakan bahwa semuanya terkait dengan Ebola," tutur Kamba.
Berbicara langsung dari wilayah DRC, Perwakilan WHO, Anne Ancia, menyampaikan kepada para jurnalis di Jenewa bahwa salah satu kandidat vaksin bernama Ervebo saat ini tengah diteliti secara intensif. Kendati demikian, proses ketersediaan vaksin tersebut diprediksi membutuhkan waktu yang cukup lama.
"Kemungkinan akan memakan waktu setidaknya dua bulan agar vaksin tersebut tersedia di lapangan," ungkap Ancia.
Baca Juga:
Eropa Dipanggang Panas Ekstrem, Pakar Ungkap Biang Kerok yang Bikin Korban Berjatuhan
Namun demikian, Ancia menilai pasokan vaksin tersebut nantinya akan tetap sangat berguna untuk menekan angka fatalitas. Dirinya memproeksikan bahwa perang melawan penyebaran wabah ini tidak akan bisa diselesaikan dalam waktu singkat.
"Saya tidak berpikir bahwa dalam dua bulan kita akan selesai dengan wabah ini," tambah Ancia.
Konflik Perparah Keadaan