Wabah Ebola paling mematikan di DRC sebelumnya terjadi antara tahun 2018 dan 2020, yang mengklaim hampir 2.300 korban jiwa dari total 3.500 kasus. Saat ini, titik episentrum dari kasus-kasus baru berada di provinsi Ituri bagian timur laut, wilayah yang berbatasan langsung dengan Uganda dan Sudan Selatan.
Sebagai pusat penambangan emas, wilayah ini mencatat mobilitas warga yang sangat tinggi yang secara teratur melintasi kawasan perbatasan. Kondisi ini diperparah dengan fakta bahwa Ituri telah dirundung bentrokan berdarah antar milisi lokal selama bertahun-tahun, sehingga menghambat penanganan medis.
Baca Juga:
WHO Beri Peringatan Serius Umumkan Darurat Global Baru, Virus Ebola Mengintai Dunia
Kini, virus dilaporkan telah menyebar luas ke provinsi-provinsi tetangga, bahkan telah menembus batas negara DRC hingga masuk ke wilayah Uganda. Kamba mengungkapkan bahwa keterlambatan deteksi awal dipicu oleh faktor sosiologis masyarakat setempat yang salah mengidentifikasi penyakit tersebut.
"Sayangnya, peringatan dini lambat beredar di dalam komunitas karena masyarakat mengira ini adalah penyakit mistis, dan akibatnya, orang yang sakit tidak dibawa ke rumah sakit," papar Kamba.
Saat ini, krisis Ebola tersebut menjadi wabah yang ke-17 kalinya melanda negara terluas di Afrika Tengah yang dihuni oleh lebih dari 100 juta jiwa tersebut. Kendala terbesar bagi tim medis adalah fakta bahwa vaksin yang ada saat ini hanya efektif untuk menangani strain Zaire, yang sebelumnya menyebabkan wabah terbesar dalam sejarah.
Baca Juga:
Kasus Virus Hanta Muncul di Wilayah Urban, DPR Minta Kewaspadaan Ditingkatkan
Sementara itu, strain Bundibugyo tercatat pernah memicu wabah di Uganda pada tahun 2007 dan di DRC pada tahun 2012, dengan tingkat kematian atau mortalitas berkisar antara 30% hingga 50%. Menanggapi situasi genting ini, Presiden Kongo, Felix Tshisekedi, mendesak seluruh warga negara untuk tidak panik menghadapi situasi.
Pihak kepresidenan melalui media sosial X menyatakan bahwa kepala negara telah menginstruksikan jajaran pemerintah untuk mempercepat dan memperkuat respons darurat di lapangan. Berdasarkan data terbaru, kasus suspek juga telah dilaporkan berada di pusat perdagangan Butembo, Provinsi Kivu Utara, yang berjarak sekitar 200 kilometer dari titik awal penyebaran wabah.
Satu kasus lainnya dikonfirmasi telah ditemukan di kota Goma, ibu kota Provinsi Kivu Utara, yang telah dikuasai oleh kelompok pemberontak M23 sejak Januari tahun lalu. Dokter asal Kongo sekaligus peraih Penghargaan Nobel Perdamaian 2018, Denis Mukwege, melayangkan seruan terbuka kepada kelompok yang didukung Rwanda tersebut untuk segera membuka kembali akses penerbangan.