WAHANANEWS.CO, Jakarta - Dokter di Malaysia memperingatkan semakin banyak anak muda yang mengalami tanda-tanda awal kerusakan jantung. Hal ini dipicu tekanan darah tinggi atau hipertensi akibat pola hidup yang tidak sehat.
Di negara tersebut, hampir satu dari tiga orang dewasa mengalami hipertensi. Sayangnya, banyak yang tidak menyadari kondisinya karena gejala sering muncul samar dan berkembang diam-diam.
Baca Juga:
3 Dampak Serius Serangan Israel ke Iran: Potensi Konflik Kawasan hingga Lonjakan Harga Energi
Dokter spesialis jantung dan elektrofisiologi dari Sunway Medical Centre, Sunway City (SMC), Dr Gary Lee Chin Keong mengatakan tekanan darah tinggi yang berlangsung lama membuat jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh.
Akibatnya, otot jantung mengalami penebalan dan menjadi lebih kaku seiring waktu.
"Salah satu tanda kerusakan paling awal adalah hipertrofi ventrikel kiri (LVH), suatu kondisi yang melibatkan penebalan ruang pemompa utama jantung, yang dapat mengurangi kemampuan jantung untuk mengisi dan memompa darah secara efisien," ucap Dr Gary, dikutip dari Malay Mail.
Baca Juga:
BPBD Jatim Data Kerusakan Bangunan Akibat Gempa di Tuban dan Sekitarnya
"Tidak seperti otot rangka, penebalan ini tidak bermanfaat dalam jangka panjang. Tekanan terus-menerus menyebabkan otot jantung menjadi kaku," lanjutnya.
Menurut Dr Gary, kondisi LVH bisa berkembang bertahun-tahun tanpa disadari dan biasanya baru terdeteksi lewat pemeriksaan seperti ekokardiogram.
Ia menyebut gejalanya seperti nyeri dada, sesak napas, jantung berdebar, pusing, hingga pingsan sering kali dianggap hanya akibat stres, kelelahan, atau gangguan pencernaan biasa. Akibatnya, banyak pasien baru mencari pertolongan medis setelah muncul komplikasi serius.
Hipertensi yang tidak terkontrol juga meningkatkan risiko gagal jantung, stroke, serangan jantung, penyakit ginjal, hingga gangguan irama jantung seperti fibrilasi atrium.
Dr Gary menyoroti tren meningkatnya kasus hipertensi dan penyakit jantung pada usia muda di Malaysia. Menurutnya, kondisi ini erat kaitannya dengan gaya hidup modern.
"Sekitar 20 tahun yang lalu, hipertensi sebagian besar dianggap sebagai masalah bagi orang yang lebih tua. Saat ini, saya memiliki pasien yang baru berusia 20-an atau 30-an," ujarnya.
Ia mengatakan kebiasaan seperti jam kerja panjang, stres kronis, kurang tidur, minim olahraga, merokok, konsumsi garam berlebih, hingga makanan olahan menjadi pemicu utama.
"Tren ini disebabkan oleh jam kerja yang panjang, stres kronis, kurang tidur, kurang olahraga, merokok, asupan garam berlebihan, dan konsumsi makanan olahan yang tinggi. Obesitas dan diabetes semakin meningkatkan risiko, menciptakan 'kelompok faktor risiko kardiovaskular yang berbahaya'," jelasnya.
Maka dari itu, Dr Gary mengimbau masyarakat mulai rutin memantau tekanan darah, kolesterol, gula darah, hingga berat badan sejak usia 20-an.
Ia menegaskan deteksi dini dan perubahan gaya hidup sehat dapat membantu memperlambat bahkan sebagian membalikkan kerusakan jantung.
"Jangan menunggu gejala muncul untuk memberi tahu Anda bahwa ada sesuatu yang salah. Semakin dini Anda mendeteksi tekanan darah tinggi, semakin besar peluang Anda untuk melindungi jantung Anda," bebernya.
[Redaktur: Alpredo Gultom]