Ia menilai, jika pengawasan lemah, maka bukan hanya merugikan pasien, tetapi juga berpotensi menghambat target pengendalian HIV/AIDS secara nasional.
Selain persoalan distribusi obat, Achmad juga menyinggung tingginya risiko penularan HIV akibat penggunaan jarum suntik secara bergantian tanpa standar sterilitas yang memadai.
Baca Juga:
Kampanye Peringatan Hari AIDS Sedunia Ajak Warga Jangan Asingkan ODIV
Ia menilai, edukasi mengenai perilaku hidup sehat dan aman masih harus diperkuat, terutama bagi kelompok masyarakat yang rentan terhadap penularan penyakit menular.
Tak hanya itu, Achmad turut menyoroti pentingnya pendekatan sosial melalui penguatan ketahanan keluarga.
Menurutnya, dukungan keluarga memiliki peran penting dalam mencegah diskriminasi sekaligus membantu proses pengobatan dan pemulihan pasien HIV/AIDS.
Baca Juga:
Benarkah HIV Menular Lewat Nyamuk dan Sentuhan? Ini Penjelasan Lengkapnya
“Perlu pendekatan ketahanan keluarga, bagaimana suami istri dapat menerima secara sempurna ketidaksempurnaan yang ada,” jelasnya.
Di luar persoalan HIV/AIDS, Achmad juga menaruh perhatian besar terhadap tingginya kasus TBC yang berkaitan erat dengan kondisi lingkungan dan kualitas hunian masyarakat miskin.
Rumah yang lembab, minim ventilasi, dan sanitasi buruk disebutnya menjadi faktor utama yang mempercepat penyebaran bakteri TBC di kawasan padat penduduk.