WAHANANEWS.CO, Jakarta - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menegaskan bahwa penguatan kerja sama regional di kawasan ASEAN menjadi langkah krusial dalam menghadapi peningkatan kasus dengue yang masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat Asia Tenggara.
Penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk ini dinilai memerlukan penanganan lintas negara karena karakteristik wilayah dan iklim yang relatif serupa.
Baca Juga:
Korban Banjir dan Longsor Bertambah, Tim Medis Tapanuli Utara Minta Dukungan Alat Medis
“Infeksi dengue di kawasan ASEAN masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Karena itu, kolaborasi antarnegara ASEAN menjadi penting untuk memperkuat upaya penanggulangan dengue,” kata Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI dr. Prima Yosephine dalam keterangan pers di Jakarta, Selasa 10 Februari 2026.
Ia menjelaskan, forum kerja sama regional ASEAN berperan sebagai ruang strategis bagi negara-negara anggota untuk saling bertukar pengalaman, menyusun strategi bersama, serta berbagi praktik terbaik dalam upaya pengendalian dengue yang efektif dan berkelanjutan.
Indonesia sebagai tuan rumah mendorong agar forum tersebut menghasilkan rekomendasi konkret yang dapat diimplementasikan dalam kebijakan kesehatan regional.
Baca Juga:
Pemerintah Tegaskan Pasien Gawat Darurat Wajib Dilayani Tanpa Rujukan di Seluruh Indonesia
“Pengendalian dengue tidak bisa berdiri sendiri. Kita perlu langkah bersama, terintegrasi, dan berkelanjutan agar hasilnya optimal,” ujarnya.
Lebih lanjut, Prima menekankan bahwa penanggulangan dengue harus dilakukan secara komprehensif, mulai dari pengendalian lingkungan, pengurangan populasi vektor nyamuk, hingga peningkatan perlindungan dan kesadaran masyarakat.
Indonesia juga mengajak seluruh negara ASEAN untuk menyepakati target bersama dalam menekan dampak dengue di kawasan.
“Sehingga target zero death akibat dengue pada 2030 dapat dicapai bersama. Kami berharap solidaritas regional ASEAN semakin kuat guna menghasilkan langkah kolektif terarah menghadapi ancaman dengue lintas negara,” ucap Prima menutup.
Sementara itu, Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan, Asnawi Abdullah, menegaskan bahwa penyakit demam berdarah dengue (DBD) merupakan masalah kesehatan yang tidak mengenal batas negara.
Hal tersebut disebabkan oleh kesamaan kondisi iklim dan lingkungan di sejumlah wilayah.
"Faktor ini membutuhkan respons nasional sekaligus kepemimpinan kolektif, penyelarasan kebijakan, serta kerja sama regional berkelanjutan. Pada 2024 Indonesia mengalami berbagai tantangan, seperti perubahan iklim, badai, dan fenomena El Nino, yang menyebabkan kasus DBD naik ke angka tertinggi,” kata Asnawi.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]