Artinya, hanya sekitar separuh dari kebutuhan operasi yang dapat dipenuhi oleh fasilitas kesehatan yang tersedia.
Menurut Netty, kondisi tersebut menunjukkan masih adanya kesenjangan yang cukup besar antara kebutuhan pelayanan medis dengan kapasitas penanganan yang dimiliki Indonesia saat ini.
Baca Juga:
Surahman Hidayat Desak Polisi Tangkap Pelaku Begal Remaja di Bandung hingga Tuntas
"Artinya, ada kesenjangan besar antara kebutuhan layanan dan kapasitas yang tersedia. Kesenjangan inilah yang harus segera diperkecil melalui penguatan sistem pelayanan kesehatan secara menyeluruh," tegas politisi Fraksi PKS ini.
Netty menilai upaya deteksi dini terhadap penyakit jantung bawaan perlu terus diperkuat karena dapat meningkatkan peluang bayi memperoleh penanganan sebelum kondisinya semakin memburuk.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa keberhasilan skrining harus diimbangi dengan kesiapan layanan lanjutan, mulai dari sistem rujukan hingga tindakan operasi.
Baca Juga:
Komisi VIII DPR Minta Persiapan Haji 2027 Dimulai Lebih Awal Demi Tingkatkan Layanan Jemaah
"Semakin cepat penyakit diketahui, semakin besar peluang bayi memperoleh penanganan tepat sebelum kondisinya memburuk. Namun, skrining saja tidak cukup apabila tidak diikuti peningkatan kapasitas layanan rujukan dan tindakan operasi. Jangan sampai makin banyak bayi terdeteksi, tetapi justru harus menunggu terlalu lama karena keterbatasan ruang operasi, tenaga medis, maupun fasilitas," jelasnya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Netty mendorong pemerintah agar segera mempercepat pemerataan layanan jantung anak di berbagai daerah.
Langkah tersebut dapat dilakukan melalui penguatan rumah sakit rujukan, peningkatan kapasitas fasilitas kesehatan, serta percepatan pendidikan dokter spesialis dan subspesialis di bidang jantung anak.