WAHANANEWS.CO, Jakarta - Wabah Ebola di Afrika hingga hantavirus mematikan di kapal pesiar MV Hondius disebut menjadi sinyal dunia sedang memasuki masa yang 'berbahaya'.
Pernyataan itu disampaikan Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, saat membuka Sidang Majelis Kesehatan Dunia di Jenewa, Senin (18/5/2026).
Baca Juga:
Soal Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, WHO Buka Suara Singgung Risiko Muncul Kasus Baru
Tedros menyoroti dua wabah yang kini menyita perhatian dunia, yakni Ebola di Republik Demokratik Kongo dan hantavirus Andes virus yang menyebar di kapal pesiar MV Hondius.
"Kedua wabah tersebut hanyalah krisis terbaru di dunia kita yang penuh masalah," katanya di hadapan para menteri kesehatan dan delegasi internasional.
Menurut Tedros, dunia kini menghadapi berbagai ancaman secara bersamaan. Mulai dari konflik, krisis ekonomi, perubahan iklim, hingga pemotongan bantuan internasional.
Baca Juga:
Mewabah di Afrika, Begini Tingkat Kematian Virus Marburg
"Dari konflik hingga krisis ekonomi hingga perubahan iklim dan pemotongan bantuan, kita hidup di masa-masa sulit, berbahaya, dan memecah belah," ujar Tedros yang dikutip dari The Straits Times.
Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran global terhadap penyebaran Ebola dan hantavirus lintas negara.
Dalam kesempatan yang sama, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez turut menyinggung pentingnya solidaritas global menghadapi ancaman penyakit menular. Spanyol sebelumnya dipuji karena mengizinkan kapal MV Hondius berlabuh di Kepulauan Canary untuk proses evakuasi penumpang dan awak kapal.
"Tidak ada negara yang dapat menyelamatkan dirinya sendiri," kata Sanchez.
"Saat ini, membela akal sehat telah menjadi bentuk pemberontakan," ujarnya, seraya menyesalkan adanya 'pandemi egoisme' yang sedang berlangsung.
Sidang Majelis Kesehatan Dunia 2026 sendiri berlangsung di tengah situasi sulit yang dihadapi WHO. Termasuk dampak pemotongan dana besar-besaran dan pengumuman penarikan diri Amerika Serikat dari organisasi tersebut.
Menteri Kesehatan Swiss Elisabeth Baume-Schneider mengatakan anggaran WHO telah dipangkas signifikan.
"Anggaran WHO telah dikurangi sekitar 21 persen, atau hampir US$1 miliar (sekitar Rp 17 triliun). Ratusan pekerjaan telah dihilangkan, program-program telah dikurangi," katanya.
"WHO harus, dan mampu, menjalani reformasi mendalam di tengah keadaan darurat."
Dunia Masih Membutuhkan WHO
Sementara itu, Direktur Pusat Kesehatan Global Geneva Graduate Institute, Suerie Moon, menyebut wabah hantavirus menjadi bukti dunia masih membutuhkan WHO yang kuat.
"Krisis hantavirus memberikan ilustrasi yang jelas mengapa dunia membutuhkan WHO yang efektif, tepercaya, tidak memihak, dan didanai secara andal," katanya.
Selain membahas wabah penyakit, sidang tahunan WHO juga diwarnai sejumlah isu sensitif, mulai dari status Taiwan hingga negosiasi perjanjian pandemi global.
Negara-negara anggota WHO disebut masih belum mencapai kesepakatan terkait mekanisme pembagian akses patogen dan distribusi vaksin, tes, serta pengobatan saat pandemi. Di sisi lain, status penarikan Amerika Serikat dan Argentina dari WHO juga belum jelas.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengajukan pemberitahuan penarikan AS dari WHO pada Januari 2025. Argentina kemudian mengikuti langkah serupa.
Namun, WHO hingga kini belum mengonfirmasi penarikan tersebut karena masih ada kewajiban keuangan yang belum dipenuhi Amerika Serikat.
Presiden Ghana John Dramani Mahama mengatakan dunia kini sedang berada di titik perubahan besar dalam sistem kesehatan global.
"Enam tahun setelah pandemi global terakhir, COVID-19, arsitektur kesehatan dunia berubah dengan cepat," tuturnya.
"Kita menyaksikan akhir dari sebuah era. Kita harus berani membangun era berikutnya."
[Redaktur: Alpredo Gultom]