Reza menilai kekerasan yang dialami YTT masuk dalam kategori ekstrem sehingga penyidik perlu membaca perkara ini secara lebih dalam dan menyeluruh.
Menurut Reza, penyelidikan dapat diarahkan pada lima dimensi penting untuk memahami faktor yang mungkin melatari perilaku kekerasan tersebut.
Baca Juga:
BPK Temukan ASN di Kukar Terima Honor 900 Kali, Nilainya Tembus Rp 9,5 Miliar
Lima dimensi itu mencakup riwayat gangguan jiwa dan penyalahgunaan narkoba, fantasi kekerasan, pola pengekspresian amarah, stabilitas pendidikan dan finansial, serta kondisi domisili.
"Boleh jadi banyak masalah pada kelima dimensi itu," kata Reza.
Reza juga melihat relasi pasangan yang tidak terikat pernikahan pada dasarnya dapat menyimpan tekanan lebih berat apabila tidak dibangun dengan kontrol emosi dan dukungan sosial yang sehat.
Baca Juga:
Wanita Tewas di Tambora, Suami Siri Ditangkap Polisi Usai Anak Korban Mengadu ke Tetangga
Menurutnya, hubungan yang problematik dapat membuka ruang konflik berulang hingga pihak yang secara fisik lebih lemah menjadi korban kekerasan.
"Pemicu pertikaian jadi banyak, yang fisiknya lemah akan menjadi bulan-bulanan," kata Reza.
Dalam kasus YTT, Reza menduga korban berada dalam posisi sangat rentan karena tidak memiliki faktor perlindungan mendasar setelah terpisah dari keluarga.