Keterpisahan dari keluarga membuat korban kehilangan sistem pendukung yang semestinya dapat membantu mendeteksi bahaya, memberi perlindungan, atau membuka jalan keluar dari situasi kekerasan.
"Pada sisi yang sama, ada kelemahan majemuk, fisik, psikis, sosial ekonomi," kata Reza.
Baca Juga:
BPK Temukan ASN di Kukar Terima Honor 900 Kali, Nilainya Tembus Rp 9,5 Miliar
Reza menilai kombinasi kelemahan tersebut membuat korban semakin mudah mengalami viktimisasi secara berulang.
"Dia rentan diviktimisasi berulang, akibatnya," kata Reza.
Kasus ini sekaligus menjadi peringatan bahwa kekerasan dalam ruang privat tidak boleh dipandang sebagai urusan personal semata ketika sudah mengarah pada dugaan tindak pidana.
Baca Juga:
Wanita Tewas di Tambora, Suami Siri Ditangkap Polisi Usai Anak Korban Mengadu ke Tetangga
Lingkungan sekitar, pemilik tempat tinggal, keluarga, hingga aparat setempat dinilai perlu lebih peka terhadap tanda-tanda kekerasan yang berlangsung tertutup dan berulang.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.