Keterpisahan dari keluarga membuat korban kehilangan sistem pendukung yang semestinya dapat membantu mendeteksi bahaya, memberi perlindungan, atau membuka jalan keluar dari situasi kekerasan.
"Pada sisi yang sama, ada kelemahan majemuk, fisik, psikis, sosial ekonomi," kata Reza.
Baca Juga:
SMR 50 MW Jadi Peluang Energi Baru, ALPERKLINAS: PLN Dapat Memimpin Integrasi Nuklir ke Sistem Kelistrikan
Reza menilai kombinasi kelemahan tersebut membuat korban semakin mudah mengalami viktimisasi secara berulang.
"Dia rentan diviktimisasi berulang, akibatnya," kata Reza.
Kasus ini sekaligus menjadi peringatan bahwa kekerasan dalam ruang privat tidak boleh dipandang sebagai urusan personal semata ketika sudah mengarah pada dugaan tindak pidana.
Baca Juga:
Jepang Pangkas Pajak Makanan dari 8% Jadi 1%, Berlaku Mulai April 2027
Lingkungan sekitar, pemilik tempat tinggal, keluarga, hingga aparat setempat dinilai perlu lebih peka terhadap tanda-tanda kekerasan yang berlangsung tertutup dan berulang.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.