Melihat perkembangan tersebut, Bahlil menegaskan harapannya agar tahapan Front End Engineering and Design (FEED) dapat dimulai pada kuartal kedua tahun 2026 atau paling lambat pada kuartal ketiga tahun ini.
Dengan dimulainya tahap FEED, proses tender Engineering Procurement Construction (EPC) juga dapat dilakukan secara paralel sehingga proyek dapat berjalan lebih cepat.
Baca Juga:
Kerja Sama Dagang RI–AS Menguat, Investasi Mineral Wajib Bangun Smelter di Dalam Negeri
"Karena kami berkeinginan ini bisa cepat supaya jangan ulur-ulur lagi. Ini 27 tahun, masa kita mau tunggu sampai usia saya 60 tahun baru jadi kan. Apalagi itu kampung ibu saya. Jadi saya pikir bisa tahun ini kita semua tender EPC," ujar Bahlil dalam pertemuan itu.
Untuk memastikan keberlanjutan proyek, Bahlil juga menawarkan solusi terkait kepastian pembeli gas dari Lapangan Abadi Masela. Proyek tersebut diproyeksikan memiliki kapasitas produksi sekitar 9 Million Tonnes Per Annum (MTPA).
Ia menyampaikan bahwa apabila hingga akhir April 2026 belum terdapat pembeli yang serius, maka gas dari proyek tersebut dapat dibeli oleh Danantara, termasuk untuk mendukung program hilirisasi industri nasional.
Baca Juga:
Indonesia Tegaskan Produk Nonhalal Tak Wajib Label dan Sertifikat Halal
"Supaya ada kepastian buyer. Saya menghargai buyer luar negeri, tapi pada saatnya sekarang negara Indonesia harus hadir, untuk bersama-sama dengan INPEX dalam rangka memastikan operasi. Jadi kami saja yang membeli," ujar Bahlil.
Menanggapi hal tersebut, CEO INPEX Corporation Takayuki Ueda menyatakan apresiasinya atas dukungan pemerintah Indonesia terhadap proyek tersebut.
Ia menegaskan bahwa pihak INPEX juga memiliki komitmen yang sama untuk mempercepat realisasi Proyek Abadi Masela.