WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah, menegaskan bahwa keberlanjutan kondisi fiskal yang sehat menjadi faktor kunci dalam mendukung pelaksanaan delapan Program Prioritas Nasional yang tercantum dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) Tahun 2027.
Menurutnya, pemerintah perlu memastikan ruang fiskal tetap terjaga agar berbagai agenda pembangunan strategis dapat direalisasikan secara optimal dan berkesinambungan.
Baca Juga:
DPR dan Pemerintah Bidik Pendapatan Warga Rp 7,6 Juta/Bulan lewat APBN 2026
Dalam pandangannya, keberhasilan program-program prioritas tersebut tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran yang tersedia, tetapi juga oleh kemampuan pemerintah menjaga keseimbangan fiskal di tengah berbagai tantangan ekonomi global maupun domestik.
Stabilitas fiskal dinilai menjadi fondasi penting untuk menjaga kepercayaan pasar sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional dalam jangka panjang.
Said mengingatkan bahwa pada tahun 2027 pemerintah masih menghadapi kewajiban pembayaran bunga dan pokok utang yang jatuh tempo dalam jumlah signifikan.
Baca Juga:
Redam Keresahan Daerah, Menkeu Purbaya Tambah TKD Jadi Rp692 Triliun
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena berlangsung bersamaan dengan kebutuhan pemerintah untuk mencari sumber pembiayaan baru guna mendukung berbagai program pembangunan dan pelayanan publik.
“Pada tahun 2027 kita masih akan menanggung jatuh tempo bunga dan pokok utang yang besar. Pada saat yang sama kita dihadapkan pada tuntutan untuk menggali pembiayaan utang,” ujar Said dalam Rapat Kerja (Raker) Banggar DPR RI bersama Menteri Keuangan, Menteri PPN/Kepala Bappenas, dan Gubernur Bank Indonesia di Nusantara II, Senayan, Jakarta, Selasa (9/6/2026).
Ia menilai, situasi tersebut mengharuskan pemerintah menerapkan strategi pengelolaan fiskal yang cermat dan terukur agar kebutuhan pembiayaan negara tetap terpenuhi tanpa menimbulkan tekanan berlebihan terhadap stabilitas ekonomi maupun keberlanjutan anggaran negara.