Ia juga menyoroti banyaknya produk tekstil impor murah dari China yang dinilai menekan industri tekstil nasional. Karena itu, menurutnya, pemerintah perlu menghadirkan regulasi yang berpihak kepada pengusaha Indonesia agar industri dalam negeri tetap mampu bersaing dan mempertahankan lapangan kerja.
Selain itu, Arnod berharap pemerintah mengurangi ketergantungan impor serta memperluas pasar ekspor Indonesia, termasuk membuka peluang kerja sama perdagangan dengan negara-negara yang membutuhkan pasokan produk dari Indonesia.
Baca Juga:
Infrastruktur untuk Kesejahteraan Buruh, Waketum BMI Dorong Penguatan Sinergi Lintas Kementerian
“Pemerintah harus memperkuat pasar ekspor kita dan mengurangi ketergantungan impor agar industri nasional bisa tumbuh dan menyerap lebih banyak tenaga kerja,” ujarnya.
Menurut Arnod, perluasan program PBI Jamsosnaker bagi 20 juta pekerja rentan dan masyarakat miskin juga harus menjadi prioritas pemerintah. Selain itu, peningkatan kualitas pendidikan di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), peningkatan kesejahteraan guru, serta layanan kesehatan gratis dan mudah diakses masyarakat miskin juga perlu mendapat perhatian serius.
Di akhir pernyataannya, Arnod mengajak seluruh buruh Indonesia menjaga persatuan dan ikut menggerakkan perekonomian nasional di tengah tantangan ekonomi global.
Baca Juga:
KSPSI Tanggapi Pidato Presiden di Mayday 2026, Soroti Implementasi dan Kepastian Teknis
“Kita berharap nilai tukar rupiah semakin kuat, inflasi terkendali, kepercayaan publik dan investor meningkat, investasi bertambah, lapangan kerja semakin luas, dan kesejahteraan rakyat Indonesia terus meningkat. Dengan semangat persatuan dan gotong royong, buruh dapat menjadi bagian penting dalam membawa Indonesia menuju kemajuan yang lebih baik,” pungkasnya.
[Redaktur: Amanda Zubehor]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.