Politisi Fraksi PDI-Perjuangan tersebut menilai evaluasi tidak hanya perlu dilakukan terhadap teknis pelaksanaan pelatihan, tetapi juga mencakup kurikulum, silabus, hingga metode pembelajaran yang digunakan.
Ia mengingatkan bahwa apabila pendekatan pelatihan saat ini tetap dipertahankan tanpa perbaikan, maka potensi terulangnya insiden serupa harus menjadi perhatian seluruh pihak.
Baca Juga:
DPR Dalami Penyebab 60 Ribu Calon Mahasiswa Lolos PTN Tak Daftar Ulang, UKT Jadi Sorotan
"Saya pikir harus diubah kurikulum, silabus, atau metode pelatihannya. Fokusnya harus pada kemampuan mengelola usaha, bukan keterampilan militer," tegasnya.
Lebih lanjut, Darmadi menekankan bahwa calon manajer Kopdes Merah Putih semestinya memperoleh pembekalan yang berkaitan langsung dengan pengembangan koperasi dan pengelolaan bisnis.
Menurutnya, kemampuan menyusun strategi usaha, membaca potensi pasar, membangun jejaring bisnis, mengembangkan pelaku UMKM, hingga menyusun strategi pemasaran merupakan kompetensi yang jauh lebih dibutuhkan dibandingkan materi yang bersifat kedisiplinan ala militer.
Baca Juga:
Konferensi Pers Polda Jambi, Ungkap Ratusan Kasus Kriminal, Narkotika dan Tindak Pidana Khusus Selama Semester 1 2026
"Manajer itu tidak mudah. Harus diuji kemampuan manajerialnya, bagaimana melihat peluang bisnis, mengembangkan UMKM, dan melakukan penetrasi pasar. Itu yang seharusnya menjadi materi utama," Di kutip situs resmi DPR RI, Rabu (1/7/2026).
Darmadi juga mengingatkan bahwa keberhasilan program Kopdes Merah Putih dalam jangka panjang tidak hanya ditentukan oleh pembentukan kelembagaan atau jumlah koperasi yang berdiri.
Menurutnya, kualitas sumber daya manusia yang dipercaya mengelola koperasi menjadi faktor utama yang akan menentukan keberlangsungan dan keberhasilan program tersebut.