Ia menilai sejumlah indikator ekonomi nasional justru menunjukkan tren perbaikan dalam beberapa bulan terakhir.
"Angka Rp18.000 ini dianggap sebagai angka psikologis oleh banyak pihak. Namun, menurut kami, ini lebih banyak didorong oleh sentimen. Buktinya, setelah pengumuman APBN triwulan I, kondisi ekonomi dari bulan ke bulan justru semakin membaik," jelas Politisi Fraksi Partai Gerindra tersebut.
Baca Juga:
Heboh Isu Menkeu Purbaya Mundur, Istana Akhirnya Buka Suara
Lebih lanjut, Hekal menegaskan bahwa fondasi ekonomi Indonesia saat ini masih relatif kuat. Karena itu, tantangan yang muncul terhadap nilai tukar rupiah sebagian besar berasal dari faktor eksternal, seperti gejolak ekonomi global, perubahan kebijakan suku bunga negara maju, hingga dinamika pasar keuangan internasional.
Dalam menghadapi situasi tersebut, ia menilai koordinasi yang erat antara kebijakan fiskal yang dijalankan pemerintah dan kebijakan moneter yang diterapkan Bank Indonesia menjadi faktor krusial.
Sinergi kedua instrumen ekonomi tersebut diyakini mampu menjaga stabilitas pasar sekaligus memperkuat kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional.
Baca Juga:
Opening Ceremony Torang Creative and Ecotourism Festival 2026 Digelar di Sorong
"Kita berharap kedua pengendali sektor keuangan kita, yaitu sektor fiskal dan moneter, bisa memiliki koordinasi yang semakin baik. Hari ini kita ingin mendengar dari keduanya, apakah ada hal-hal yang belum sinkron dan bagaimana ke depan sinkronisasi kebijakan itu dapat terus dijaga sesuai koridor masing-masing," katanya.
Hekal menjelaskan bahwa pemerintah melalui Kementerian Keuangan memiliki peran penting dalam memperkuat kebijakan fiskal, termasuk menjaga kesehatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Di sisi lain, Bank Indonesia bertugas memastikan stabilitas moneter melalui pengendalian inflasi, pengelolaan likuiditas, serta menjaga kestabilan nilai tukar rupiah.