Ia menambahkan bahwa keberadaan pasar penadah barang curian turut menjadi faktor yang memperbesar peluang terjadinya tindak kejahatan.
Karena itu, penanganan begal dinilai harus dilakukan secara menyeluruh, termasuk memutus rantai distribusi hasil kejahatan.
Baca Juga:
FOMO dan Overthinking Gegara Medsos? Waspada, Bisa Jadi Otak Sedang Kelelahan
Fenomena meningkatnya aksi begal juga dinilai semakin mengkhawatirkan lantaran para pelaku disebut semakin berani dan terang-terangan saat menjalankan aksinya.
Dalam sejumlah video yang beredar luas di media sosial, pelaku tampak membawa senjata tajam hingga diduga senjata api untuk mengintimidasi korban agar menyerahkan barang berharganya.
“Dan kasus begal yang beraksi hingga ratusan kali dalam beberapa bulan juga menjadi bukti adanya celah serius dalam deteksi dini dan pemetaan pelaku. Faktor ini harusnya mendapat intervensi penanganan,” seru Legislator dari Dapil Jawa Tengah II itu.
Baca Juga:
Bunyikan Klakson, Sopir Taksi Online Lolos dari Pembegalan
Menurut Gilang, lonjakan kasus kriminalitas jalanan tidak bisa hanya dipandang sebagai persoalan keamanan semata.
Ia menilai meningkatnya aksi begal juga berkaitan erat dengan tekanan sosial dan ekonomi yang terjadi di kawasan perkotaan.
“Kalau penanganannya hanya berfokus pada penangkapan pelaku tanpa memperbaiki akar masalah ekonomi dan ketimpangan sosial, maka siklus kejahatan berpotensi terus berulang,” terang Gilang.