"Masyarakat ngritik dianggap salah atau ya sudah silahkan kritik, kami tetap jalan," tegasnya.
Ia menambahkan bahwa nasionalisme bisa terkikis jika masyarakat merasa tidak diperhatikan dalam pemenuhan hak dasar seperti sandang, pangan, dan papan.
Baca Juga:
Johanis Tanak: Pimpinan KPK Memiliki Kewenangan Menetapkan Tersangka dalam Kasus Korupsi
"Orang mau berusaha diperas, mau cari kerjaan dipalak dan belum tentu dapat, mau eksekusi vonis juga harus bayar, perkara sudah inkrah diadili lagi. Itu kan banyak," paparnya.
Situasi semacam itu, lanjutnya, berpotensi memunculkan keinginan sebagian warga untuk meninggalkan negeri sendiri demi mencari kehidupan yang lebih layak.
"Kan keperluan nomor satu kan hidup, kalau nggak bisa hidup nggak bisa memenuhi sandang, pangan, papan, ya udah kabur aja dulu. Ini fenomenanya sama (seperti kasus Tyas)," jelasnya.
Baca Juga:
TNI Tetapkan Status Siaga Satu, Mahfud MD Curiga Ada Hal Serius di Baliknya
Meski memahami adanya kekecewaan, Mahfud tetap menegaskan bahwa pernyataan Tyas tidak bisa dibenarkan karena dinilai menghina republik.
"Mbak Tyas, saya marah kepada Anda menghina republik ini. Tapi juga saya paham bahwa apa yang Anda katakan itu karena fakta yang sering mengecewakan di tempat kita," tutupnya.
Ia pun mengingatkan bahwa keberhasilan yang diraih Tyas tidak lepas dari peran negara, termasuk dukungan melalui program beasiswa LPDP.