Penelusuran terhadap dokumen dan rekam jejak penyusunnya kemudian memunculkan sejumlah kejanggalan yang menjadi perdebatan publik, termasuk klaim nominasi, pencantuman nama tokoh dunia sebagai penulis, serta klaim mengenai latar belakang akademik penyusunnya.
Dokumen riset tersebut memiliki panjang sekitar 69 halaman, tetapi materi utama disebut hanya mencakup sekitar 15 halaman sementara bagian lainnya berisi berbagai lampiran administrasi.
Baca Juga:
Konflik Kepentingan Jadi Pemicu Korupsi, Kementerian PANRB Dorong ASN Deklarasi Sejak Dini
Secara substansi, paper tersebut berusaha menguraikan argumentasi mengenai kelayakan Program MBG memperoleh Nobel Perdamaian dengan mengangkat gagasan bahwa ketahanan pangan dapat dipandang sebagai bagian dari infrastruktur perdamaian.
Sorotan publik selanjutnya semakin tertuju kepada Dian Damayanti karena namanya tercantum dalam sejumlah paper yang diunggah melalui SSRN dan beberapa di antaranya mencantumkan nama Prabowo Subianto serta Emmanuel Macron.
Profil akademis Dian turut menjadi bahan perbincangan setelah berbagai klaim mengenai gelar, keahlian, kemampuan bahasa, dan kolaborasi internasionalnya beredar luas di media sosial.
Baca Juga:
Menhaj Lantik Enam Pejabat Baru, Tekankan Integritas dan Zero Tolerance terhadap Korupsi
Perempuan kelahiran 21 September 1992 tersebut menjadi perbincangan di platform X setelah mengklaim dirinya masuk dalam nominasi Nobel Peace Prize pada 2025 dan 2026.
Dalam profil LinkedIn dan sejumlah rekam jejak akademis yang beredar, Dian juga mendaku memiliki keahlian lintas bidang mulai dari kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), robotika, sistem perang, hingga energi nuklir.
Ia turut mengklaim menguasai sembilan bahasa asing dan pernah berkolaborasi dengan sejumlah institusi internasional, termasuk NASA dan ESA Rusia, serta menjadi pembicara di Oxford dan Cambridge.