Ia menjelaskan, “Anggota Dewan itu kan enggak orang Jakarta semua, guys, mereka diwajibkan kontrak rumahnya dekat-dekat Senayan supaya memudahkan ke DPR,” bahkan membandingkan dengan dirinya yang tinggal di Bintaro dan harus bergulat dengan kemacetan.
Namun, pernyataannya justru mendapat hujan kritik, dan Nafa akhirnya meminta maaf pada Jumat (22/8/2025).
Baca Juga:
Demo Mahasiswa di Jambi, Mahasiswa Tolak Bubarkan Diri Meski Malam Tiba
Kemudian, Wakil Ketua Komisi III DPR Ahmad Syahroni menanggapi kritik publik dengan pernyataan pedas pada Jumat (22/8/2025), “Catat nih, orang yang cuma mental bilang ‘bubarin DPR’, itu adalah orang tolol se-dunia,” yang memicu kecaman baru karena publik menilai ucapan itu merendahkan rakyat, meski ia menambahkan bahwa DPR tetap bekerja dan berempati kepada masyarakat.
Belum reda amarah publik, Eko Patrio, anggota DPR sekaligus mantan komedian, mengunggah parodi sebagai operator Sound Horeg pada Minggu (24/8/2025) malam di Senayan Park. Aksi ini dianggap menantang rakyat dan memancing kritik.
Meski begitu, Eko menegaskan, "Enggak ada maksud apa-apa, itu acara pembubaran panitia 17 Agustus-an," dan ia pun meminta maaf.
Baca Juga:
Presiden Prabowo Perintahkan Penegak Hukum Usut Tuntas Insiden Rantis Brimob Tewaskan Ojol
Puncak kekecewaan terjadi pada Senin (25/8/2025) saat ribuan demonstran memadati kawasan Senayan dengan poster tuntutan bertuliskan “DPR: Dewan Pembeban Rakyat”, “Bubarkan DPR”, “Sahkan RUU Perampasan Aset”, hingga “Stop Komersialisasi Pendidikan”.
Aksi yang awalnya damai berubah ricuh setelah aparat menembakkan gas air mata dan menyemprot massa dengan water cannon, sehingga demonstran terpencar hingga Jalan Gatot Subroto, Jalan Gerbang Pemuda, dan Pejompongan, dengan kerusakan
Peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Lucius Karus menilai besarnya tunjangan perumahan anggota DPR menunjukkan hilangnya sense of crisis. Seharusnya mereka memilih menggunakan fasilitas rumah dinas yang masih layak agar uang tunjangan bisa dialokasikan untuk rakyat.