Ia mengingatkan bahwa pemilihan teknologi harus didasarkan pada karakteristik sampah, kemampuan fiskal daerah, kebutuhan energi, serta kesiapan infrastruktur pendukung.
Pemerintah daerah juga perlu menghitung biaya operasional, kebutuhan pasokan sampah, harga energi yang dihasilkan, dan kemampuan fasilitas bertahan dalam jangka panjang.
Baca Juga:
Swedia Impor Sampah, Indonesia Malah Kewalahan: Peneliti BRIN Bongkar Penyebabnya
Tohom yang juga Pengamat Energi dan Lingkungan ini mengatakan bahwa banyak proyek pengolahan sampah menghadapi kendala karena perencanaan lebih berfokus pada pembangunan fasilitas dibandingkan keberlanjutan operasionalnya.
“Jangan sampai fasilitas dibangun dengan biaya besar, tetapi kemudian berhenti beroperasi karena pasokan bahan baku, biaya pemeliharaan, atau model bisnisnya tidak dipersiapkan sejak awal,” tuturnya.
Ia juga mendorong Pemerintah Kabupaten Bantul melakukan kajian lingkungan secara terbuka sebelum menentukan lokasi dan teknologi yang akan digunakan.
Baca Juga:
Tambang Emas Martabe Ubah Ribuan Sampah Menjadi Taman Ecobrick
Kajian tersebut diperlukan untuk memastikan proses pengolahan sampah tidak menimbulkan pencemaran udara, air, maupun residu baru yang membebani masyarakat sekitar.
Selain pengelolaan sampah, Tohom menilai teknologi pengubahan air laut menjadi air tawar dapat menjadi pilihan jangka panjang dalam menghadapi pertumbuhan kebutuhan air dan ancaman krisis air bersih.
Namun, teknologi desalinasi harus mempertimbangkan kebutuhan energi yang besar, biaya produksi air, pengelolaan limbah garam, serta dampaknya terhadap ekosistem pesisir.