"Di Indonesia, urusan kehidupan beragama pada dasarnya sudah berjalan dengan baik. Paham keagamaan yang kita anut adalah moderasi beragama (wasatiyah). Karena pahamnya wasatiyah, maka tingkat toleransinya juga cukup baik," katanya.
Menurut Marwan, delegasi Parlemen UEA juga menyampaikan bahwa masyarakat di negaranya menerapkan nilai-nilai keagamaan yang moderat dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga:
Mariana Dorong Ciputra Mitra Hospital Perluas Layanan bagi Peserta BPJS Kesehatan
Kesamaan pandangan tersebut dinilai menjadi modal yang kuat bagi kedua negara untuk membangun kerja sama yang lebih luas dalam mengembangkan moderasi beragama sekaligus menyebarluaskan nilai-nilai Islam yang damai, toleran, inklusif, dan mampu menjawab tantangan kehidupan masyarakat modern.
"Karena kepentingannya sama, yaitu menjaga paham keagamaan yang moderat, maka kerja sama di bidang tersebut sangat mungkin dilakukan pada masa yang akan datang," jelasnya.
Meski demikian, Marwan mengingatkan bahwa upaya menjaga kerukunan umat beragama masih menghadapi berbagai tantangan.
Baca Juga:
Baleg DPR Serap Aspirasi di Batam, RUU Penyadapan Disiapkan Atur Kewenangan hingga Mekanisme Penyadapan
Salah satunya adalah munculnya pihak-pihak yang memanfaatkan isu maupun sentimen keagamaan untuk kepentingan politik tertentu.
Karena itu, ia menilai kolaborasi antarnegara dalam memperkuat moderasi beragama menjadi langkah strategis untuk menjaga persatuan, memperkuat stabilitas sosial, dan menciptakan perdamaian.
Selain membahas kerja sama di bidang moderasi beragama, delegasi Parlemen UEA juga menyampaikan bahwa saat ini terdapat lebih dari 100 imam masjid asal Indonesia yang menjalankan tugas di Uni Emirat Arab.