WAHANANEWS.CO - Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang mengaku mengetahui pihak di balik pendanaan aksi demonstrasi menuai tanggapan dari mantan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD. Mahfud meminta Prabowo mengungkap secara terbuka siapa pihak yang dimaksud agar informasi tersebut tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.
Mahfud mengatakan apabila memang mengetahui pihak yang membayar atau menggerakkan demonstrasi, Presiden sebaiknya menyampaikan secara terang-terangan kepada publik.
Baca Juga:
Nadiem Dituntut 18 Tahun Penjara, Mahfud MD Ragukan Unsur Niat Jahat dalam Kasus Chromebook
"Mestinya ya Pak Prabowo ungkapkan aja siapa sih yang dibayar, siapa yang membayar," kata Mahfud saat ditemui di UC UGM, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (25/6/2026).
"Harusnya diomongin aja terang-terangan lah. Ini, BEM ini dibayar ini, ini yang bayar kan gitu," lanjutnya.
Menurut Mahfud, setiap tudingan terkait adanya pihak yang membayar demonstran harus disertai bukti yang jelas serta penyebutan pihak yang dimaksud secara terbuka.
Baca Juga:
Mahfud MD Sebut Kasus Amsal Sitepu “Tragedi Hukum”, Hakim Akhirnya Vonis Bebas
Ia menilai kritik yang disampaikan mahasiswa selama ini umumnya disertai penjelasan mengenai kebijakan maupun persoalan yang dipersoalkan.
"Kayak mahasiswa kan jelas, ini salahnya di sini lho pemerintah disebut, pemerintahnya disebut, kebijakannya. Kalau hanya bilang mahasiswa dibayar, terus siapa yang mau diperbaiki di tengah kita? Kalau mahasiswa jelas kan kalau kritik pemerintah nyebut kasusnya, MBG, korupsinya sekian, ini sekian, ini ini, kan disebut, ini pelakunya, kan gitu, ini institusinya," ungkapnya.
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu juga menyoroti pengakuan mahasiswa Universitas Bung Karno (UBK) yang disebut menerima uang Rp20 juta terkait aksi demonstrasi beberapa waktu lalu.
Mahfud mengaku prihatin apabila mahasiswa terlibat dalam aksi yang didorong oleh imbalan tertentu meski fenomena serupa, menurutnya, bukan hal baru dalam sejarah pergerakan mahasiswa.
"Ya sangat menyedihkan ya kalau sampai mahasiswa mau dibayar untuk itu. Meskipun di setiap waktu itu selalu ada kelompok-kelompok kecil mahasiswa yang keluar dari arus utama perjuangan tuh sejak dulu ada," katanya.
Mahfud kemudian menceritakan pengalamannya semasa menjadi mahasiswa ketika ada sejumlah pihak yang berperan ganda sebagai aktivis sekaligus informan.
"Dulu banyak intel-intel tuh mahasiswa, merangkap intel, merangkap jadi aktivis. Dan baru cair lagi hubungan kami sesudah Orde Baru runtuh, lalu kita, oh kamu dulu intel, iya dulu saya intel dibayar dan sebagainya. Sekarang orang yang dibayar tuh ada buzzer kan? Kemudian ada aktivis mahasiswa seperti yang terjadi di Jakarta di UBK itu. Tapi itu arus kecil, arus kecil dan mudah ketahuan juga kan," kenangnya.
Meski demikian, Mahfud menegaskan kelompok-kelompok tersebut tidak mewakili arus utama gerakan mahasiswa di Indonesia.
Ia mengingatkan agar mahasiswa tetap menjaga independensi dan tidak mudah terpecah oleh kepentingan tertentu.
"Sebaiknya mahasiswa tuh jangan mau di pecah-pecah, ada BEM tandingan, ada BEM ini BEM itu gitu. Pokoknya perjuangan aja secara objektif bahwa sekarang perlu perbaikan-perbaikan, kan gitu," ujarnya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengaku mengetahui pihak yang mendanai sejumlah aksi demonstrasi saat memberikan sambutan dalam acara Puncak Pekan Nasional Petani Nelayan XVII 2026 di Gorontalo, Rabu (24/6/2026).
"Hati-hati loh saya kasih peringatan mereka-mereka itu, saya tahu siapa yang bayar-bayar demo, gue tahu itu," kata Prabowo.
Meski tidak menyebut pihak yang dimaksud, Prabowo menyinggung adanya demonstran yang mengikuti aksi karena dibayar.
"Ditanya anak-anak demo enggak ngerti 'mau demo apa ya?' 'hm hm hm'. Kami dibayar Rp200 ribu, tapi ada," ujarnya.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]