Oleh karena itu, ia mendorong agar pemerintah, Danantara, dan mitra asing secara aktif melibatkan pelaku usaha nasional, baik di bidang konstruksi, teknologi lingkungan, manufaktur peralatan, maupun pembiayaan proyek.
“Model konsorsium harus dimanfaatkan untuk mendorong transfer teknologi yang nyata. Jangan sampai investor lokal hanya menjadi penonton. Justru momentum ini harus dijadikan sarana memperkuat kemampuan industri nasional dalam teknologi pengolahan sampah dan energi bersih,” katanya.
Baca Juga:
Presiden Dorong Kinerja Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara Makin Optimal
Tohom juga menilai bahwa pengembangan fasilitas PSEL memiliki nilai strategis ganda, yakni sebagai solusi lingkungan sekaligus sebagai sumber energi alternatif.
Dengan jumlah sampah perkotaan yang terus meningkat, pengolahan sampah berbasis energi dapat menjadi bagian penting dalam strategi ketahanan energi nasional.
Tohom yang juga Pengamat Energi dan Lingkungan ini mengatakan bahwa pendekatan Waste-to-Energy merupakan solusi yang realistis bagi kota-kota besar Indonesia yang menghadapi keterbatasan lahan untuk tempat pembuangan akhir.
Baca Juga:
Korem 042/Gapu Gelar Bazar Ramadhan TNI 2026, Warga Jambi Timur Antusias Berburu Sembako Murah
Menurutnya, teknologi ini tidak hanya membantu mengurangi volume sampah secara signifikan, tetapi juga berkontribusi terhadap pengurangan emisi gas rumah kaca.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan proyek WtE di Bogor Raya dapat menjadi model pengembangan serupa di berbagai kota besar lainnya di Indonesia.
Dengan pengelolaan yang transparan, standar lingkungan yang ketat, serta keterlibatan investor nasional yang lebih besar, proyek ini berpotensi menjadi motor baru dalam transformasi sektor energi dan pengelolaan sampah nasional.