Salah satu perhatian utama para kiai sepuh adalah mekanisme AHWA. Dalam tradisi NU, AHWA merupakan forum ulama yang beranggotakan sembilan ulama senior untuk memilih dan menetapkan Rais Aam.
Ma’ruf menilai anggota AHWA harus merepresentasikan ulama yang memiliki kapasitas keilmuan sekaligus integritas moral.
Baca Juga:
Sinyalemen Skandal Kamar Hotel - Stempel Palsu: Menggugat Marwah Muktamar NU ke-35
“AHWA itu adalah representasi para ulama untuk memilih Rais Aam, yang lahir mestinya dari hati nurani dan memilih orang yang terbaik, representasi ulama yang terbaik, yang punya selain kapasitas, juga integritas,” ujarnya.
Karena itu, proses pemilihan AHWA dinilai harus dijauhkan dari transaksi, mobilisasi dukungan, tekanan maupun bentuk intervensi lain yang dapat memengaruhi kebebasan para Muktamirin.
Ma’ruf juga menyinggung adanya kekhawatiran mengenai isu campur tangan pihak eksternal, termasuk isu mengenai “restu istana”. Namun, ia menyatakan keyakinannya bahwa pemerintah tidak akan mengintervensi proses internal NU.
Baca Juga:
Peringatan: Isu Intervensi Presiden Prabowo Subianto Jelang Muktamar NU ke-35(?)
“Kalau ada isu restu istana misalnya, saya yakin, kita yakin bahwa pemerintah tidak akan melakukan hal itu,” kata Ma’ruf.
Menurutnya, penyelesaian berbagai persoalan NU harus tetap ditempuh melalui mekanisme internal organisasi.
Tujuh Seruan Moral Kiai Sepuh