Dalam maklumat yang dibacakan dalam forum tersebut, para kiai sepuh menyampaikan sejumlah seruan kepada seluruh warga NU, terutama para pemangku amanat organisasi.
Pertama, seluruh pihak diminta menjaga agar Muktamar berlangsung secara sejuk, jujur, adil, berintegritas dan bermartabat.
Baca Juga:
Sinyalemen Skandal Kamar Hotel - Stempel Palsu: Menggugat Marwah Muktamar NU ke-35
Kedua, Muktamar ditegaskan bukan sekadar arena untuk menentukan siapa yang menang dan kalah. Forum tersebut merupakan permusyawaratan tertinggi NU yang harus menjunjung adab, akhlak, nilai keulamaan serta tradisi organisasi.
Para kiai sepuh mengingatkan agar Muktamar tidak dicederai transaksi kepentingan, tekanan, manipulasi maupun cara-cara lain yang dinilai merendahkan kehormatan ulama dan marwah jamiyah.
Ketiga, kedaulatan Muktamirin diminta dihormati sepenuhnya. Para peserta Muktamar dinilai memiliki mandat dari struktur NU dan jamaah yang diwakilinya.
Baca Juga:
Peringatan: Isu Intervensi Presiden Prabowo Subianto Jelang Muktamar NU ke-35(?)
“Tidak boleh ada desain, mekanisme, pengkondisian ataupun rekayasa yang secara langsung maupun tidak langsung mengurangi kebebasan dan kedaulatan Muktamirin dalam menggunakan hak dan menjalankan amanatnya,” demikian salah satu substansi maklumat tersebut.
AHWA Diminta Tak Jadi Instrumen Perebutan Kekuasaan
Dalam maklumat itu, para kiai sepuh juga menekankan agar AHWA tetap ditempatkan sebagai representasi keulamaan, bukan instrumen perebutan kekuasaan.