Para kiai sepuh juga mengusulkan agar AHWA yang terpilih tidak langsung berakhir setelah menetapkan Rais Aam. Mereka mendorong pengembangan fungsi AHWA menjadi lembaga yang turut menjaga, mendamaikan dan menyelesaikan perselisihan internal NU.
Dorong AHWA Jadi Organ Permanen
Baca Juga:
Sinyalemen Skandal Kamar Hotel - Stempel Palsu: Menggugat Marwah Muktamar NU ke-35
Menurut maklumat tersebut, AHWA diharapkan dapat menjadi organ permanen di struktur PBNU yang menjalankan fungsi yang lebih luas sepanjang satu periode kepengurusan.
Lembaga tersebut diharapkan dapat berperan sebagai pengawal organisasi sekaligus wadah islah dan tahkim apabila muncul perselisihan di lingkungan NU.
“Kita berharap lembaga AHWA ini setelah Muktamar sampai pada satu periode itu bertugas sebagai Ahlul Himayah Wal Islah wat Tahkim. Ketika ada persoalan di internal, mereka akan memutuskannya,” demikian seruan yang disampaikan dalam forum tersebut.
Baca Juga:
Peringatan: Isu Intervensi Presiden Prabowo Subianto Jelang Muktamar NU ke-35(?)
Selain itu, para kiai sepuh menyerukan seluruh pihak, termasuk calon, pendukung calon dan pemangku kepentingan di semua tingkatan, agar menahan diri serta mengedepankan akhlakul karimah.
Pada akhirnya, Muktamar NU ke-35 diharapkan menjadi jalan menuju islah dan persatuan. Siapa pun yang terpilih nantinya diminta memperoleh legitimasi kuat dari proses yang bermartabat, sedangkan pihak yang tidak terpilih diharapkan menerima hasil Muktamar.
“Muktamar harus menjadi jalan islah dan persatuan,” menjadi salah satu pesan utama dalam maklumat para kiai sepuh tersebut.