Melalui pendekatan tersebut, para peneliti menganalisis hubungan antara tutupan lahan, jenis tanah, kemiringan lereng, serta intensitas curah hujan terhadap aliran permukaan dan debit sungai.
Hasil kajian menunjukkan bahwa wilayah hulu DAS Ayung memiliki kemampuan infiltrasi yang tinggi sehingga berfungsi penting sebagai kawasan resapan air alami.
Baca Juga:
Arus Balik Melandai, Korlantas Akhiri Sistem One Way dari Kalikangkung hingga Cikampek
Sebaliknya, wilayah hilir yang didominasi oleh kawasan terbangun memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi terhadap hujan berintensitas besar dan berpotensi mengalami banjir apabila kapasitas saluran air tidak mencukupi.
Temuan ini menegaskan bahwa upaya rehabilitasi vegetasi saja belum cukup untuk mengurangi risiko banjir secara signifikan.
Diperlukan pendekatan terpadu dari hulu hingga hilir, termasuk peningkatan kapasitas saluran air, penataan ruang wilayah, serta pengendalian pembangunan khususnya di kawasan sempadan sungai.
Baca Juga:
Genjot Infrastruktur Pendidikan, Sekolah Rakyat Tahap II Ditargetkan Tampung 112 Ribu Siswa
Pertemuan tersebut dipimpin oleh Asisten Deputi Pengurangan Risiko Bencana Kemenko PMK, Andre Notohamijoyo, dan dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan terkait.
Hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan dari Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, Kementerian Pekerjaan Umum Republik Indonesia, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, serta pemerintah daerah di Provinsi Bali, termasuk kabupaten dan kota di wilayah DAS Ayung.
Perwakilan Kementerian Pekerjaan Umum menyampaikan bahwa sejumlah langkah penanganan telah dan akan terus dilakukan secara bertahap.