Karena fase musth berlangsung cukup lama, tim medis Balai TN Tesso Nilo bersama Balai Besar KSDA Riau melakukan pembiusan atau sedasi pada Rabu (24/06/2026) untuk memasang rantai tambahan sebagai langkah pengamanan, kemudian memberikan penawar bius hingga Indro kembali sadar dalam kondisi berdiri stabil.
"Mulai siang hari pascapembiusan, gajah Indro terpantau mengalami penurunan nafsu makan dan minum secara drastis. Mahout dari tim medis BTNTN langsung melakukan pemantauan intensif selama 24 jam penuh serta berkoordinasi secara ketat dengan dokter hewan ahli untuk penanganan lanjutan," jelasnya.
Baca Juga:
Pembunuhan Gajah Sumatera, LAM Riau: Ini Kejahatan terhadap Alam
Selama masa pemantauan, kondisi kesehatan Indro terus diawasi oleh tim medis, Flying Squad, dan para mahout hingga akhirnya pada Senin (29/06/2026) sekitar pukul 03.30 WIB terjadi perubahan kondisi fisik secara mendadak dan gajah ditemukan dalam posisi terbaring.
Dokter hewan bersama tim mahout kemudian melakukan pemeriksaan fungsi pernapasan dan tindakan resusitasi jantung paru (CPR), namun upaya penyelamatan tersebut tidak membuahkan hasil.
"Namun, gajah Indro tidak memberikan respons dan secara resmi dinyatakan mati pada pukul 03.45 WIB," demikian keterangan Balai TN Tesso Nilo.
Baca Juga:
Gajah Sumatera Ditembak Mati di Pelalawan, Gading Diduga Diburu
Kepergian Indro menjadi duka bagi dunia konservasi karena selama bertahun-tahun gajah tersebut berperan penting dalam Tim Flying Squad Taman Nasional Tesso Nilo untuk membantu mitigasi konflik antara manusia dan gajah liar di kawasan tersebut.
Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan turut menyampaikan belasungkawa atas kepergian Indro yang dinilai telah memberikan pengabdian besar dalam upaya pelestarian satwa liar di Riau.
"Kepergian Indro, Gajah Sumatera yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari Elephant Flying Squad Taman Nasional Tesso Nilo, meninggalkan duka mendalam bagi seluruh pecinta alam dan satwa liar. Dedikasinya dalam membantu mitigasi konflik antara manusia dan gajah adalah pengabdian yang tak ternilai," kata Irjen Herry Heryawan.