"Rumah sakit dan puskesmas relatif semua sudah baik, tapi akan dioptimalkan lagi oleh Menteri Kesehatan. Ada beberapa puskesmas pembantu yang jadi masalah," ujar Tito.
Dia pun menyebut akses jalan nasional dan jembatan nasional terhubung. Akan tetapi ada kendala di Aceh (Bireun dengan Gayo Leus) dan di Sumatra Utara (Tapanuli Tengah).
Baca Juga:
Kritik Banjir Dibalas Molotov, Amnesty Nilai Negara Tak Boleh Diam
"Tapi di Sumbar semua lancar. Kemudian jembatan nasional juga baik terhubung meskipun terhubung menggunakan bailey, perintis, armco, gantung, tapi fungsional untuk mobilitas. Ada beberapa jembatan daerah yang belum," kata Tito.
Mantan Kepala BNPT itu lantas menjelaskan pembelajaran di 4.922 sekolah yang tersebar di tiga provinsi. Menurut Tito, ada beberapa sekolah yang ada melakukan kegiatan belajar mengajar di tenda.
Baca Juga:
Menteri ATR/BPN Siap Lindungi Lahan di Sumatra dari Mafia Tanah
"Dan terutama di daerah yang dia harus direlokasi. Ini yang tadi kita bicarakan mengenai kesiapan tempat untuk relokasinya. Ada yang menumpang di sekolah yang lain, ada juga yang di kelas darurat. Itu ada beberapa. Tapi mayoritas sudah di sekolah masing-masing. Nah ini progres-progres yang baik ini, termasuk juga yang sudah di huntara dari BNPB," ujar Tito.
Lebih lanjut, dia mengatakan, pemerintah akan melakukan proses menuju pemulihan permanen. Untuk itu, pemerintah meluncurkan Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatra.
"Rencana induk direkap dari seluruh kabupaten/kota, provinsi, dan K/L. Setelah itu disandingkan, dari Bappenas, kami satgas ikut dalam menyesuaikan, akan diselesaikan dalam waktu tiga tahun. Tahun 2026, tahun 2027, dan tahun 2028," kata Tito.