Pengalaman ini menjadi bukti bahwa investasi pada pendidikan kebencanaan inklusif mampu meningkatkan kapasitas individu maupun institusi dalam menghadapi bencana nyata.
Tenaga tata usaha sekolah, Muslim Hasan, memeriksa pesan grup jejaring komunikasi melalui ponsel pintar menggunakan alat bantu saat beraktivitas di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Pembina Aceh Tamiang, yang terdampak banjir, Selasa (13/1/2026).
Baca Juga:
Pasca Banjir Besar, Aktivitas Pasar Kuala Simpang Aceh Tamiang Mulai Bangkit
Praktik ini sejalan dengan pengarusutamaan disabilitas dalam kebijakan PRB nasional serta mandat inklusivitas dalam Rencana Induk Penanggulangan Bencana.
Menuju Pemulihan yang Lebih Tangguh dan Berkelanjutan
Ke depan, proses pemulihan SLB Negeri Pembina Aceh Tamiang diharapkan tidak sekadar mengembalikan kondisi seperti sebelum bencana, tetapi juga meningkatkan tingkat ketahanan sekolah.
Baca Juga:
Kemenkes Catat ISPA, Hipertensi, dan Diare Dominasi Penyakit Pengungsi di Aceh Tamiang
Salah satu kebutuhan mendesak adalah pembangunan shelter evakuasi mandiri yang inklusif, dengan desain universal, jalur akses aman, serta fasilitas pendukung bagi penyandang disabilitas.
“Kami berharap sekolah ini memiliki gedung shelter evakuasi yang inklusif, karena lokasi sekolah dekat dengan sungai dan mungkin ada potensi bencana berulang,” ujar Muslim.
Harapan tersebut menjadi pengingat bahwa fase pemulihan pascabencana merupakan momentum strategis untuk memperkuat kebijakan PRB inklusif.