Ia menjelaskan, penerapan kartu Nusuk dan tasreh juga membantu mempercepat proses pelayanan.
Sistem digital tersebut memudahkan jemaah mengetahui lokasi hotel, kelompok perjalanan, hingga akses layanan sejak pertama kali tiba di Arab Saudi.
Baca Juga:
Pengawasan Ketat Kesehatan Haji 2026 Dinilai Efektif, Jemaah Wafat Menurun
Abdul Wachid mengatakan, sistem baru ini juga berhasil mengurangi persoalan klasik yang selama ini kerap terjadi pada jemaah gelombang pertama di Madinah, terutama terkait penempatan hotel dan pemisahan rombongan keluarga.
“Jemaah bisa satu kelompok dengan keluarganya, dengan pendampingnya, bahkan satu kabupaten. Ini ibaratnya seperti kampung pindah ke Tanah Suci,” ujar Politisi Fraksi Partai Gerindra itu.
Selain penataan jemaah, peningkatan kualitas akomodasi juga menjadi perhatian Timwas DPR RI.
Baca Juga:
DPR Minta Jemaah Haji Jaga Stamina dan Imunitas Hadapi Puncak Ibadah
Untuk pertama kalinya, sekitar 5.000 jemaah reguler Indonesia mendapatkan fasilitas hotel berbintang lima di Madinah.
Menurut Abdul Wachid, peningkatan kualitas penginapan tersebut menjadi salah satu kemajuan penting dalam pelayanan haji reguler Indonesia.
“Baru tahun ini jemaah haji reguler menempati hotel bintang lima. Selain itu banyak hotel yang dekat sekali dengan Masjid Nabawi,” kata Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI ini.