Angka tersebut menunjukkan bahwa regulasi yang baik masih membutuhkan percepatan implementasi di lapangan. Kasus seperti yang terjadi di Jakarta Selatan semestinya menjadi momentum untuk mempercepat pekerjaan tersebut.
Perlindungan Siswa Bukan Hanya Fisik
Baca Juga:
Komdigi Tegur YouTube Buntut Konten Bigmo Promosikan Vape Libatkan Anak-anak
Ada satu hal yang tidak boleh tenggelam di tengah perdebatan mengenai jenis dan legalitas senjata, yakni kondisi anak-anak yang bersekolah di sana.
Perlindungan siswa tidak selesai hanya dengan memastikan barang berbahaya telah dikeluarkan dari lingkungan sekolah.
Bayangkan seorang anak mengetahui bahwa di tempat yang selama ini dianggap aman ternyata tersimpan ratusan benda menyerupai senjata, kemudian kasus tersebut menjadi pemberitaan luas dan sekolahnya menjadi sorotan publik.
Baca Juga:
Pelapor Tegaskan Laporan Bigmo Tak Dicabut, Permintaan Maaf Tak Hentikan Proses Hukum
Sebagian anak mungkin tidak menunjukkan reaksi apa pun. Sebagian lainnya dapat merasa takut, cemas, malu, atau mempertanyakan keamanan sekolahnya.
Karena itu, langkah perlindungan harus dilakukan tanpa membuat anak merasa menjadi bagian dari perkara yang sebenarnya tidak mereka lakukan.
Identitas dan privasi siswa perlu dijaga, kegiatan pembelajaran sedapat mungkin tetap berlangsung secara normal, sementara layanan konseling atau pendampingan psikososial harus tersedia bagi mereka yang membutuhkan.