(2) dunia yang dibentuk oleh permainan citra, retorika, serta trik pengelabuhan informasi;
(3) dunia yang di dalam.
Baca Juga:
SPAN PTKIN 2025 Dibuka, Ini Daftar UIN Terbaik di Indonesia Versi Webometrics
Sudah jadi diskursus umum, orientasi kampus-kampus zaman kiwari bertumpu pada kompetisi dan pemeringkatan.
Meminjam istilah Herbert Marcuse, disorientasi kampus dewasa ini bisa disebut sebagai fenomena one dimensional man, yakni penggiringan masyarakat pada satu sistem yang sama: sistem kapitalis lewat pendidikan, media, dan sebagainya.
Dalam pendidikan, penyeragaman sistem diinfiltrasi ke dalam satu standar global pemeringkatan kampus melalui Quacquarelli Symonds (QS), Times Higher Education (THE), Shanghai Jiao Tong University (SJTU), Webometric, dan sebagainya.
Baca Juga:
Dorong Generasi Muda Raih Prestasi, Universitas Terbuka Gelar Pekan Tilawah Pelajar
Agus Nuryanto, dalam buku Mazhab Pendidikan Kritis: Menyingkap Relasi Pengetahuan, Politik, dan Kekuasaan (2008), mengungkapkan bahwa kompetisi intelektual yang bermuara pada pemeringkatan kampus dalam skala internasional --sebagaimana dijalankan oleh Webometrics, THE, QS, SJTU, dan lain-lain-- merupakan manifestasi tradisi neoliberalisme.
Kecenderungan kampus- kampus yang kian getol mengejar reputasi, citra, dan status WCU merupakan afirmasi atas praktik pembelokan dan pembinasaan nilai-nilai intelektual dalam konteks Indonesia.
Kita mesti sadar bahwa ekspektasi khalayak pada universitas, sejatinya tak dilihat dari banyaknya artikel yang dimuat dalam jurnal internasional maupun produktivitas penelitian dosen, melainkan implikasi riset dan jurnal itu terhadap kelangsungan hidup khalayak.