Universitas Terbuka (UT) hadir sebagai wujud penunaian amanah Ki Hajar Dewantara pada zaman kiwari.
Ketika kampus-kampus lain menjelma menara gading yang elitis, UT hadir menawarkan penyelenggaraan pendidikan tinggi yang inklusif.
Baca Juga:
SPAN PTKIN 2025 Dibuka, Ini Daftar UIN Terbaik di Indonesia Versi Webometrics
Ketika kampus-kampus lain berlomba untuk menyeleksi calon mahasiswa dengan persyaratan akademik dan nonakademik yang pelik, UT hadir dengan mengusung slogan Making Higher Education Open to All.
Ketika lulusan SMA/SMK sederajat menghadapi kegamangan atas pilihan: bekerja atau berkuliah, UT menyajikan solusi moderat dengan menawarkan opsi bekerja sambil kuliah maupun sebaliknya.
UT yang dulu sempat memikul stigma inferior, lamat-lamat mampu menunjukkan superioritasnya melalui “misi suci” membumikan dan memasyarakatkan --bukan merendahkan!-- pendidikan tinggi.
Baca Juga:
Dorong Generasi Muda Raih Prestasi, Universitas Terbuka Gelar Pekan Tilawah Pelajar
UT mendiseminasikan kerangka berpikir ilmiah kepada 310.974 mahasiswa, di dalam maupun luar negeri.
UT pionir perkuliahan jarak jauh dengan mode daring --yang kini jadi kiblat penyelenggaraan kuliah online.
Jika bukan UT, bagaimana cara Bung Endri --tulang punggung perusahaan multinasional di Malaysia-- dapat tetap menggapai asa jadi sarjana di tengah tungkus lumus kesibukan bekerja?