Jika bukan UT, bagaimana cara Mbak Niken mewujudkan mimpi ibunya: jadi insan cendekia, meski harus bekerja sebagai PMI di Malaysia.
Jika bukan di UT, bagaimana cara Pak Marsam --pekerja migran berusia 49 tahun di negeri jiran-- bisa menggapai mimpinya menjadi sarjana dan beraktualisasi diri dalam kancah akademik?
Baca Juga:
SPAN PTKIN 2025 Dibuka, Ini Daftar UIN Terbaik di Indonesia Versi Webometrics
Ibarat fenomena gunung es, Pak Marsam, Bung Endri, dan Mbak Niken hanyalah secuil dari selaksa kisah heroik mahasiswa UT lainnya.
Khitah dan garis perjuangan UT memang berbeda dengan universitas-universitas lain.
Ini bukan untuk dipertandingkan dan diperbandingkan, apalagi distratifikasi dan diperingkatkan, sebagaimana tragedi simulakra di pembuka tulisan ini.
Baca Juga:
Dorong Generasi Muda Raih Prestasi, Universitas Terbuka Gelar Pekan Tilawah Pelajar
UT adalah anomali.
UT merobohkan menara gading perguruan tinggi dan menapaki “jalan sunyi” untuk tegak lurus membumikan pendidikan tinggi.
Jalan sunyi yang telah ditempuh selama 37 tahun dan membawa UT bertubi-tubi merengkuh prestasi dan mendapat afirmasi.