Lebih jauh, pemeringkatan semacam ini juga tak berdampak pada kualitas pembelajaran dan perkuliahan di kampus karena proses perkuliahan dan konten kurikulum tidak menjadi indikator penilaian THE, Webometric, SJTU, dan QS.
Secara filosofis, pertimbangan visi kampus seyogianya didasarkan pada:
Baca Juga:
SPAN PTKIN 2025 Dibuka, Ini Daftar UIN Terbaik di Indonesia Versi Webometrics
(1) konteks di mana kampus itu berada, dan
(2) hakikat peran dan tugas universitas. Konteks kampus meliputi aspek geografis, seperti: kampus terletak di pedesaan atau perkotaan, potensi lingkungan sekitar, kebutuhan dasar masyarakat sekitar, problematika lingkungan sekitar.
Sementara hakikat peran dan tugas universitas meliputi pengembangan potensi segenap civitas academica, pengembangan ilmu pengetahuan, dan penjaga nilai etis dan kebenaran intelektual (Edi, 2019).
Baca Juga:
Dorong Generasi Muda Raih Prestasi, Universitas Terbuka Gelar Pekan Tilawah Pelajar
Hal ini segendang-sepenarian dengan buah pikir Ki Hajar Dewantara yang termaktub dalam magnum opus berjudul Pendidikan, “Untuk mendapatkan sistem pengajaran yang akan berfaedah bagi perikehidupan bersama, haruslah sistem itu disesuaikan dengan hidup dan penghidupan rakyat.”
Pendidikan Tinggi Inklusif