Secara umum, ada dua agenda riset.
Agenda pertama memperbanyak eksperimen langsung dalam bentuk uji acak terkendali (randomized controlled trial) dalam riset-riset ekonomi.
Baca Juga:
Luhut Bicara Terbuka: Ini yang Membuat Indonesia Kurang Dipercaya Dunia
Agenda kedua membakukan, sekaligus memberi landasan teori ekonometri, prosedur strategi-strategi riset agar menyerupai eksperimen uji acak (quasi-experimental researches) untuk data-data di mana kebijakan (treatment) atau variabel penyebab tidak disebarkan secara acak.
Agenda riset pendekatan eksperimen uji acak terkendali, khususnya dalam pengentasan kemiskinan dunia, telah membuahkan hadiah Nobel 2019 untuk Abhijit Banerjee, Esther Duflo, dan Michael Kremer.
Sementara peraih Nobel ekonomi tahun ini lebih memusatkan perhatiannya pada metodologi desain riset quasi-experimental, terutama dalam bidang ekonomi ketenagakerjaan.
Baca Juga:
Kinerja APBN 2025: Program Prioritas Capai 65,8 Persen, Belanja Tembus Rp611 Triliun
Dua hadiah Nobel dalam selang waktu berdekatan ini mengukuhkan besarnya pengaruh revolusi kredibilitas dalam ilmu ekonomi.
Pelajaran bagi Indonesia