SUDAH lebih dari sebulan bencana ekologis melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Luka menganga dan mendalam masih dirasakan oleh sebagian besar warga sebagai korban, yang, lebih dari dari 1.300 jiwa melayang ditelan bencana.
Selain itu kerugian akibat hancurnya infrastruktur baik itu milik warga (permukiman), dan infrastruktur publik, nilainya tak kurang dari Rp 65 triliun. Salah satu infrastruktur publik yang mengalami kerusakan serius dan eskalatif adalah infrastruktur kelistrikan, yang dimiliki oleh PT PLN.
Baca Juga:
Pelaku Utama Penyelundupan 122 Kg Sabu di Bakauheni Diburu Polisi
Kerusakan dan kerugian atas rusaknya infrastruktur kelistrikan tersebut jauh lebih dahsyat dibanding saat tsunami.
PT PLN mengestimasi kerugian infrastruktur kelistrikan di Aceh akibat terjangan bencana banjir dan tanah longsor 2025 lalu, bisa mencapai tiga kali lipat dibanding kerugian saat tsunami pada 2004.
Sebab jika saat tsunami yang mengalami kerusakan hanya dilevel jaringan distribusi saja, dan jumlahnya berkisar 80-an titik.
Baca Juga:
Di Aceh Pertamina Pastikan 97% SPBU Mulai Beroperasi
Sedangkan saat bencana banjir dan tanah longsor 2025, jaringan yang mengalami kerusakan/kehancuran bukan hanya jaringan distribusi, tetapi juga jaringan transmisi (150 KV), dan jumlah kerusakannya, baik jaringan distribusi dan jaringan transmisi mencapai lebih dari 200 titik lokasi.
Bahkan kantor cabang dan ranting PT PLN pun ikut hancur diterjang banjir dan tanah longsor.
Namun hingga saat ini managemen PT PLN belum mampu menghitung berapa nominal kerugian total atas bencana di Aceh, dan sekitarnya.