DI Indonesia, bahkan di dunia, terdapat 4 (empat) jenis penyakit tidak menular berkarakter katastropik, yakni jantung koroner, kanker, stroke dan diabetes melitus. Keempat jenis penyakit itu menjadi mesin pembunuh yang mengerikan, dan tragisnya ke-4 jenis penyakit katastropik itu kini telah menyasar generasi muda, usia di bawah 40 tahun.
Terkait dengan fenomena tersebut, salah satu jenis penyakit katastropik yang mengerikan itu adalah kanker (cancer). Oleh sebab itu menjadi isu krusial jika pada 04 Februari 2024 diperingati sebagai _World Cancer Day_ alias Hari Kanker se-Dunia.
Baca Juga:
Kepatuhan LHKPN Baru 35,52 Persen, KPK Ingatkan Batas Waktu
Sebagai bentuk _public warning/, peringatan Hari Kanker se-Dunia, adalah sangat penting. Musababnya, saat ini di seluruh dunia, terdapat 8,2 juta manusia meninggal dunia akibat kanker setiap tahunnya, dan tragisnya empat juta diantaranya meninggal prematur (berusia 30 sampai 69 tahun).
Lalu bagaimana terkait penyakit kanker di Indonesia?
Berdasar data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan data Globocan pada 2022, terdapat 408.661 kasus kanker dan total kematian 242.099. Artinya, tingkat kematian penderita kanker di Indonesia mencapai 59,24%.
Baca Juga:
Akuisisi Isargas Ikut Disorot KPK, Empat Saksi Diperiksa
Prevalensi kanker di Indonesia pada 2023 berdasarkan data Kemenkes tersebut, berada di angka 1,2 per 1000 penduduk pada 2013, menjadi 1,8 per 1000 penduduk pada 2018.
Terdapat 5 (lima) jenis penyakit kanker yang dominan di Indonesia, yakni: kanker paru, kanker payudara, kanker serviks, kanker kolokteral dan kanker hati. Prevalensi kanker paru di Indonesia mencapai 8,8% dan menempati posisi ketiga sebagai jenis kanker paling banyak ditemukan di Indonesia, setelah kanker payudara (16,6%), kanker serviks (9,2%), kanker payudara: 16,6% dan kanker serviks: 9,2%
Kanker paru (lung cancer) merupakan jenis kanker yang paling banyak diderita oleh laki-laki di Indonesia, dengan rata-rata usia diagnosis 58 tahun, yaitu 10 tahun lebih muda dibandingkan rata-rata global (68 tahun). Fenomena tersebut dengan mudah bisa ditebak musababnya, yakni mayoritas laki laki dewasa di Indonesia adalah perokok. Konkretnya dua dari tiga laki laki dewasa di Indonesia adalah perokok aktif. Alamaak.