Tersebab untuk kedua produk tersebut ketergantungan impor Indonesia masih sangat tinggi, khususnya impor energi, seperti BBM dan atau gas elpiji.
Apalagi adanya perang di zona Timur Tengah terus membara, berdampak sangat serius terhadap keamanan pasokan energi bagi Indonesia.
Baca Juga:
Sambut Hari Pelanggan Nasional, Direktur BCA Turun Langsung Layani Nasabah
Keenam, literasi digital yang belum baik. Fenomena digital teknologi yang berkelindan dengan digital ekonomi menjadi keniscayaan sosiologis, banyak mendulang kebermanfaatan.
Ironisnya di sisi lain literasi digital masyarakat Indonesia belum menggembirakan, skornya hanya 3,5 saja (dari skor ideal 5).
Indeks literasi digital meliputi indikator: ethic digital, skill digital dan culture digital. Jangan heran jika warganet Indonesia paling brisik di dunia.
Baca Juga:
Pringati Hari Konsumen Nasional, Gubernur Lampung Dorong Masyarakat Gunakan Produk Dalam Negeri
Ketujuh, indeks keberdayaan konsumen (IKK) yang belum menggambarkan realita di lapangan. Merujuk pada hasil survei terakhir oleh Kemendag dan IPB University, indeks keberdayaan konsumen Indonesia bertengger pada level "kritis" dengan skor 63,4.
Artinya sejengkal lagi IKK Indonesia mencapai level tertinggi, yakni "berdaya", layaknya IKK di negara maju.
Namun pada tataran realitas sosiologis, level IKK itu tampak paradoks. Jika dilihat fenomenanya, IKK Indonesia masih bertengger pada level menengah yakni "mampu".