Keempat, keterlibatan masyarakat. Untuk melakukan rekonstruksi kerusakan infrastruktur itu, hebatnya masyarakat ikut bahu membahu, terlibat aktif. Ini menunjukkan masyarakat mempunyai spirit sense of belonging yang tinggi.
Ini menunjukkan pula bahwa infrastruktur kelistrikan adalah infrastruktur vital dan paling strategis bagi masyarakat.
Baca Juga:
Pelaku Utama Penyelundupan 122 Kg Sabu di Bakauheni Diburu Polisi
Kelima, peran dan keberadaan tim PLN di lapangan bukan hanya untuk memulihkan infrastruktur kelistrikan semata, tetapi ikut terjun langsung dalam memulihkan infrastruktur publik yang lumpuh, misalnya melakukan normalisasi fungsi masjid, rumah sakit, sekolah, dll.
Sehingga setelah listrik menyala dan masjid kembalì bersih, maka fungsi masjid kembali menggeliat, dan adzan kembali berkumandang, kembali menggema.
Apalagi Aceh punya atribusi yang sangat khas: Serambi Mekah. Pulihnya fungsi masjid bagi masyarakat pun bukan hanya untuk melakukan ritual ibadah saja, tetapi sebagai sarana interaksi sosial yang lebih intensif.
Baca Juga:
Di Aceh Pertamina Pastikan 97% SPBU Mulai Beroperasi
Pada akhirnya, bisa disimpulkan bahwa dari sisi empirik di lapangan kerusakan infrastruktur PT PLN memang mengantongi tingkat kerusakan yang amat parah, untuk kategori infrastruktur publik.
Oleh sebab itu, kemampuan tim PT PLN dalam memulihkan dalam waktu yang relatif cepat adalah bentuk kerja keras, dengan spirit perjuangan yang tinggi.
Pulihnya infrastruktur kelistrikan di Aceh, bukan hanya sebagai alat penerangan saja, tetapi berdampak positif yang sangat signifikan untuk mengungkit mobilitas warga, dan mendorong percepatan geliat ekonomi riil di tengah masyarakat yang porak poranda dihantam bencana.