Yang jelas, menurut keterangan informal dari Humas PLN, untuk keperluan aktivitas CSR di area bencana saja, PT PLN telah menggelontorkan lebih dari Rp 22 miliar.
Hebatnya dalam masa kurang dari satu bulan tim PLN sudah mampu melakukan recovery lebih dari 90 persen jaringan listrik yang terputus.
Baca Juga:
Pelaku Utama Penyelundupan 122 Kg Sabu di Bakauheni Diburu Polisi
Dan saat ini, menurut Dirut PT PLN Darmawan Prasojo, hanya tinggal 75 desa di Aceh yang belum terakses listrik, karena memang letaknya yang sangat terisolir, terluar dan terdalam; dan masih mengalami keterputusan total dengan infrastruktur lainnya.
Oleh sebab itu, apresiasi yang tinggi menjadi sangat bermakna diberikan pada managemen PT PLN, dari mulai jajaran direksi, hingga tim lapangan, atas spirit perjuangan dalam melakukan rekonstruksi di Aceh.
Pertama, spirit perjuangan untuk memulihkan jaringan listrik di area bencana. Untuk memulihkan kondisi kelistrikan di Aceh, spirit tim PLN bukan hanya sebagai tanggung jawab korporasi, bukan hanya business as usual, tetapi spirit perjuangan yang tiada tara.
Baca Juga:
Di Aceh Pertamina Pastikan 97% SPBU Mulai Beroperasi
Bahkan bertaruh nyawa untuk hal tersebut. Melihat narasi video aktivitas merekonstruksi jaringan transmisi oleh tim PLN, sungguh sangat menggetarkan.
Kedua, pengerahan sumber daya manusia. Untuk memulihkan kelistrikan di Aceh, Sumut, dan Sumbar; managemen PT PLN mengerahkan petugas lapangan dari seluruh Indonesia, yang jumlahnya tak kurang dari 1.500 tim lapangan yang sangat andal.
Ketiga, besarnya alokasi anggaran untuk penanggulangan bencana. Untuk melakukan rekonstruksi kerusakan infrastruktur itu tentunya diperlukan biaya yang sangat tinggi, dan 100 persen biaya tersebut dikeluarkan dari anggaran kebencanaan PT PLN. Belum satu rupiah pun biaya rekonstruksi yang berasal dari dana APBN.