Para peneliti memperkirakan sebagian perjalanan mungkin dilakukan melalui sungai dan garis pantai untuk memanfaatkan transportasi air.
Namun, sebagian rute lainnya tetap harus dilalui melalui daratan yang tentu bukan pekerjaan ringan.
Baca Juga:
Temuan Fosil 'Hobbit' yang Lebih Mungil di Flores Gegerkan Arkeolog
Dengan kata lain, pemindahan Batu Altar kemungkinan bukan sekadar urusan kuat-kuatan otot, melainkan juga soal strategi, koordinasi, dan pengetahuan medan.
"Mengangkut batu sebesar ini dalam jarak yang begitu jauh membutuhkan perencanaan, koordinasi, dan pemahaman mendalam tentang lanskap, belum lagi tekad yang luar biasa," tutur Clarke.
Pernyataan itu memperkuat dugaan bahwa manusia pembangun Stonehenge memiliki kemampuan organisasi yang jauh lebih kompleks dari bayangan banyak orang.
Baca Juga:
Studi Terbaru Ungkap: Makanan Manusia Purba Bukan Daging Mammoth
"Ini menunjukkan bahwa batu tersebut kemungkinan dipindahkan secara bertahap, berpotensi menggabungkan pengangkutan darat dengan transportasi sungai atau pantai jika memungkinkan," imbuhnya.
Teka-teki ini membuat Stonehenge tidak hanya menarik karena bentuknya yang megah, tetapi juga karena kisah perjalanan batu-batunya yang terdengar seperti proyek logistik superambisius dari zaman prasejarah.
Bila dugaan para peneliti benar, Batu Altar Stonehenge adalah bukti bahwa manusia purba mungkin sudah sangat paham cara mengatur tenaga, jalur, dan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan besar.