Momen tersebut menjadi titik awal ketika keduanya mendapat perintah lanjutan untuk mengikuti pelatihan antiteror di Jerman bersama satuan elite GSG9.
"Kami diperintahkan untuk sekolah ke Jerman, sekolah antiteror GSG9."
Baca Juga:
Front Baru Dibuka, Houthi Kejutkan Israel dengan Serangan Balistik
Sekembalinya dari pelatihan tersebut, mereka langsung diberi mandat membentuk satuan anti-teror yang kemudian dikenal sebagai Detasemen 81.
"Setelah sekolah itu, kami diperintahkan membentuk pasukan antiteror yang kemudian diberi nama Detasemen 81 karena dibentuk pada 1981."
Tak lama setelah terbentuk, satuan ini langsung diuji dalam operasi besar pembebasan sandera pesawat Garuda Indonesia DC-9 Woyla di Bandara Don Mueang, Bangkok, Thailand, pada Sabtu (28/3/1981).
Baca Juga:
Kabar Duka! Juwono Sudarsono Meninggal Dunia, Indonesia Kehilangan Tokoh Pertahanan Besar
Pesawat tersebut dibajak oleh kelompok yang menamakan diri Komando Jihad dan menjadi perhatian dunia internasional.
"Ini adalah salah satu peristiwa pembebasan sandera yang paling terkenal di dunia pada saat itu."
Dalam proses pembentukan dan pelatihan pasukan, Luhut disebut memiliki peran penting dalam penyusunan konsep latihan dan sistem administrasi.